72 Indonesian Inspiring Women 2017: Erna Witoelar Aktivis Lingkungan

Lantang menyuarakan ketidakadilan sudah mendarah daging di tubuh Erna sejak muda. Kekuasaan dan penguasa tak menggentarkan langkahnya untuk ‘membela’ lingkungan.

 

Erna Witoelar mengawali sebagai aktivis dan terjun ke dunia advokasi saat kuliah di Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Perempuan asal Sulawesi Selatan ini selalu teringat ucapan salah satu seniornya untuk menjadi ‘sombong’.

Dalam artian, bersikap percaya diri dan berani terhadap siapa pun tanpa melihat status untuk meluruskan kesalahan. Wanita kelahiran 6 Februari 1947 ini adalah pendiri Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), organisasi pemerhati lingkungan tertua di Indonesia. Sesuai visi misi, Walhi banyak menggugat penyelewengan kebijakan pemerintah yang berdampak kerusakan lingkungan.

Tercatat lebih dari 30 organisasi pernah dia ikuti untuk membuktikan kepeduliannya pada isu-isu seperti hak sipil dan aksi sosial, pemberdayaan ekonomi, lingkungan, serta penanggulangan kemiskinan di tingkat nasional hingga internasional.

Misalnya, antara lain Commissioner of the High Level Commission of Legal Empowerment of the Poor, United Nations tahun 2006-2009, Founder dan Chair of Governing Board Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) tahun 2012-2015, dan Founder & Vice Chair of Asia Pacific Water Forum (APWF) tahun 1996-2012.

Meski usianya telah memasuki angka 70 tahun, semangatnya tetap membara untuk terus berkontribusi dengan memikul tanggung jawab sebagai Founder and Chairperson Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), Founder and Chairperson Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD), Founder and Member Yayasan Penerus Bangsa (YPB).

Bersamaan dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, KEHATI akan membangun laboratorium hayati khusus tanaman bambu di kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Kabupaten Bogor dan telah disepakati pada Februari 2017 lalu.

Program ini bukan hanya membangun dari segi ilmu pengetahuan tetapi turut melingkupi segi ekologi, sosial, dan ekonomi. Lantaran tanaman dengan 150 jenis di Indonesia tersebut memiliki daya serap karbondioksida delapan kali lebih banyak dari hutan tropis, membantu mengurangi risiko banjir, dan dapat dimanfaatkan juga sebagai sumber bahan baku, seperti pembuatan furnitur.

“Bila perempuan menyadari potensinya dan berkehendak menjadi sesuatu, maka dia akan mendapat keinginan tersebut,” pungkas Erna yang juga pernah memperoleh gelar UN Special Ambassador for MDGs in Asia Pacific tahun 2003-2007 dan menulis buku bertajuk ‘Membangun Jembatan’ untuk menginspirasi generasi muda. Asa Sakina Tsalisa | Istimewa

 

Women’s Obsession edisi Agustus 2017

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here