72 Indonesian Inspiring Women 2017: Sidrotun Naim Doktor Udang

Menyelami bidang keilmuan penyakit udang merupakan pilihannya yang kurang ‘seksi’ dengan tujuan mulia. Yaitu membantu kesejahteraan para penambak udang di ibu pertiwi.

Bidang keilmuan adalah jalan tempuh Sidrotun Naim untuk berkontribusi bagi kehidupan manusia. Dulu dia pernah bercita-cita menjadi dokter manusia, setelah akhirnya memutuskan masuk ke jurusan biologi di Institut Tekonologi Bandung dan berfokus pada penyakit udang.

Saat bekerja di Freeport bagian bioremediasi lahan bekas tambang, Papua, dia tertarik mendalami penelitian bidang kelautan. Sidrotun pun mengambil studi S2 kelautan di Universitas Queensland, Australia.

Sepulangnya dari Australia, perempuan asal Sukoharjo ini sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik SD dan SMA di Bandung. Ketertarikan dengan dunia penelitian kian mencuat, ketika menjadi konsultan program kelautan WWF kepada penambak udang di Aceh.

Dia menyadari tidak akan pernah bertemu dengan ahli patologi udang itu sendiri. Padahal, ada berbagai ancaman penyakit udang, seperti white spot maupun Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang mampu membunuh sekitar 70% dari total keseluruhan populasi udang.

Kekhawatiran tersebut mendorongnya untuk membantu kesejahteraan sekitar enam juta penambak udang Indonesia dan menemukan cara budidaya berkualitas. Pada 2012, dia
berkesempatan meriset IMNV di Harvard Medical School.

Beberapa penghargaan bergengsi berhasil disematkan kepada perempuan yang juga dipercaya sebagai tim ahli penyakit udang oleh Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Seperti penghargaan dari Raja Spanyol, Felipe VI dan Prince of Austria Award di Oviedo maupun UNESCO-L’Oréal for Women in Science (di Perancis dan Indonesia). Termasuk Schlumberger Foundation Faculty for the Future (Perancis), Alltech Young Scientist (Amerika Serikat), dan The Indonesian Ambassador Award for Excellence (Amerika Serikat).

Sidrotun tidak berpuas diri hanya dengan meneliti udang, dia pun aktif mengajar program studi agribisnis, sekaligus ditunjuk sebagai direktur Pusat Studi Budidaya Berkelanjutan dan Patologi (AquaPath) di Surya University, Tangerang, Banten.

Kini, dia tengah sibuk mengerjakan penelitian mengenai strategi dalam meningkatkan peluang keberhasilan budidaya ikan berfokus pada air tawar dan payau. Kajian sosial kasus tersebut dilakukan bersama Indonesia Strategic Institute (INSTRAT) untuk penambak Jawa Barat terlebih dahulu.

Kemudian, perempuan kelahiran 29 Mei 1979 ini juga meraih kehormatan sebagai keynote speaker dalam The 1st International Conference on Science, Mathematics, Environment and Education (ICoSMEE), Universitas Sebelas Maret, Solo, September mendatang. Asa Sakina Tsalisa | Istimewa

 

Women’s Obsession edisi Agustus 2017

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here