Agenda Budaya 2018

Meniti tahun 2018, Kementerian Pariwisata telah memiliki banyak agenda festival budaya yang menarik untuk dikunjungi. Lahir di tanah dengan beragam budaya, tentu membuat wisatawan domestik maupun mancanegara antusias menelusuri aneka pagelaran yang penuh tradisi. Kebhinekaan dari Sabang hingga Merauke tidak akan cukup dikunjungi dalam waktu singkat. Berikut ini beberapa festival budaya yang akan dihelat di tahun 2018.

 

Pekan Raya Sumatera Utara (Sumatera Utara)

Berlangsung sejak tahun 1972, tradisi ini digelar selama sebulan penuh. Tidak hanya sebagai destinasi wisata, ajang tersebut juga sekaligus menjadi perayaan hari jadi Provinsi Sumatera Utara. Festival akan digelar pada 16 Maret-16 April 2018. Masuk dalam agenda tahunan, sajian budaya yang ditampilkan dalam festival ini seolah-olah menjadi miniatur Sumatera Utara. Selain mempertontonkan budaya khas Sumatera Utara, pagelaran ini juga turut menampilkan berbagai kerajinan tangan dan tanaman-tanaman endemik yang menjadi ciri khas, seperti kemenyan, minyak nilam, andaliman, dan kopi. Acara serupa juga diadakan di Tapian Daya Jl Gatot Soebroto Sumatera Utara. Selain mengemban misi budaya dan pariwisata, ajang ini juga berguna meningkatkan perekonomian usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

 

Legu Gam (Ternate)

Menampilkan kesenian rakyat Ternate, Legu Gam awalnya merupakan pesta rakyat yang digelar untuk memperingati kelahiran Sultan Ternate ke-48. Kendati pemimpinnya telah berganti, pesta rakyat ini tetap dipertahankan sebagai bentuk penghargaan kepada kerajaan tersebut. Festival Legu Gam akan berlangsung pada 28 Maret hingga 13 April 2018.

Tiga hari pertama festival ini biasanya diisi pesta rakyat dan berbagai macam lomba. Mulai dari lomba yang diadakan di darat, hingga di laut pada siang harinya. Sementara, pada malam hari, kita dapat mengunjungi pasar rakyat yang didominasi wahana bermain bagi anak-anak. Selanjutnya, di tiga malam terakhir kegiatan akan dipusatkan di Kedaton. Di sesi acara ini, kental bernuansakan religuus karena diramaikan prosesi syukuran dan pemanjatan doa-doa.

 

Biak Munara Wampasi (Papua)

Festival yang satu ini terus digelar demi menjaga warisan adat yang telah berlangsung turun-temurun. Snap mor adalah salah satu cara menangkap ikan dengan cara ditombak. Tradisi yang telah menjadi warisan budaya masyarakat Biak, Papua. Kegiatan ini dilaksanakan saat siklus surut terendah dan pasang tertinggi di laut, yakni sekitar Juli hingga Agustus setiap tahunnya.

Selain Snap mor, ajang tahunan ini juga menggelar apen beyeren, yakni ritual berjalan di atas batu panas. Ada pula atraksi 1000 Tifa (alat musik tradisional budaya Biak) dan parade tarian tradisional Biak, Wor, dan Pancar. Selain menampilkan kekayaan budaya, dipertunjukkan pula kekayaan ragam hayati lewat lomba fotografi bawah laut dan pameran bunga anggrek.

 

Festival Likurai Timor (Nusa Tenggara Timur)

Perhelatan budaya ini menampilkan tarian likurai, sejenis tari perang khas Belu, Nusa Tenggara Timur. Melibatkan beberapa pemuda yang membawa pedang dan penari wanita dengan menggunakan Tihar atau kendang kecil. Sebelumnya, tarian ini menjadi ritual menyambut para pahlawan yang kembali dari medan perang. Namun seiring berjalannya waktu, tarian ini ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu kehormatan, dan pertunjukan seni. Disimbolkan juga sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira dari masyarakat setempat atas kehadiran tamunya tersebut. Meraih sukses dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memasukkan festival Likurai Timor ke dalam agenda festival Indonesia. Indah Kurniasih ǀ Istimewa

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Januari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here