Misi Perdamaian dalam Seni

Pernyataan atau ajakan menjaga perdamaian bumi bisa datang dari segala penjuru. Termasuk dalam bahasa seni yang biasa kita nikmati saat berada di galeri atau eksibisi seni. Di tengah gejolak atas pernyataan Trump mengenai Yerussalem sebagai ibukota Israel, para seniman setia menjaga hakikatnya, yakni menyuarakan isi hati. Dalam 24th Seoul International Art Festival beberapa waktu silam, Peace & Love menjadi isi hati 90 seniman dari 40 negara. Kurator pagelaran seni adalah Bosuk Lee, ketua World Culture Artist Association Inc (WCAA) dan presiden perempuan ke-21 International Creative Artists Association (ICAA)

Bertempat di Chosunilbo Museum, selama sepekan kita dibawa ke dalam konferensi perdamaian yang dihelat sejumlah negara. Antara lain Jepang, Lebanon, Turki, Jerman, Itali, Romani, Iran, Yunani, Kroasia, Saudi Arabia, Indonesia, dan tentunya tuan rumah Seoul.

Setiap negeri menyuarakan arti perdamaian masing-masing. Salah satunya karya Kim Tae Eun didominasi warna-warni cerah serupa dengan hanbok, pakaian tradisional masyarakat Korea Selatan. Tapi ada pula yang melukiskan gurat kehidupan pada wajah lelaki paruh baya. Di usianya saat ini mengidamkan keteduhan dan ketenangan terlihat dari pilihan warna dan sayu matanya. Terlukis pula prosa huruf Hangul yang mencirikan akar budaya selalu dijaga dari generasi ke generasi.

Lain pula bahasa perdamaian negeri kawasan Timur Tengah. Contohnya saja Iran, Lebanon, dan Saudi Arabia. Hadil el Rez asal Lebanon banyak mengangkat sosok perempuan. Ada lukisan perempuan tanpa wajah berambut panjang mengenakan gaun merah yang mulai berpendar. Terlukis pula sosok ibu dari belakang menggendong bayinya karya Noha Chamsseddine. Lagi-lagi, figur perempuan tanpa wajah. Dari Saudi Arabia, Layla Abdullah Al Matar melukiskan figur perempuan tangguh berdiri di samping kuda sembari memegang setangkai mawar. Isyarat-isyarat penggambaran sosok ini kian meneguhkan peran perempuan dalam menjaga keutuhan suatu bangsa.

Antonius Kho, perupa asal Indonesia yang turut memamerkan hasil karyanya juga berbicara perdamaian lewat The glance of love, Smile for peace, dan Greetings for peace. Karya tersebut baru diciptakan dua bulan sebelum eksibisi. Ketiga karya ini terinspirasi dari isu sosial, SARA, dan perbedaan yang muncul di seluruh dunia. Perpaduan warna yang diaplikasikan dalam ketiga lukisan turut mewakili emosi yang ingin disampaikan. Penggunaan warna kuning krem dan jenis warna netral lainna diibaratkan kesejukan yang mengimbangi friksi-friksi yang ada. Indah Kurniasih ǀ Istimewa

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Januari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here