Sadanis: Periksa Payudara Secara Klinis

Health Talk

Kanker payudara masuk dalam 10 penyebab kematian tertinggi perempuan di Indonesia. Meskipun, hingga kini belum ditemukan obat menyembuhkannya, rupanya penyakit ganas ini bisa dicegah dengan melakukan pemeriksaan rutin yang sederhana.

 

Seorang penyintas kanker payudara, Graece Tanus telah menjalani 36 kemoterapi. Sekitar tujuh  tahun lalu, Graece menyadari bahwa dia memiliki benjolan pada payudara.

Dia pun segera langsung mencari dokter bedah, melakukan USG dan mendapatkan info bahwa itu adalah kanker ganas. Graece segera melakukan biopsi  dan mencari dokter onkologi.

Baru kemudian menjalani masektomi radikal modifikasi dan diketahui bahwa kanker yang diderita sudah masuk taraf stadium 2B.

Dia  mengungkapkan waktu itu dirinya belum mengerti soal SADARI dan SADANIS,serta merasa masih kurang informasi mengenai kanker payudara.

SADARI (periksa  payudara sendiri) dapat dilakukan oleh setiap perempuan tanpa perlu datang ke dokter. Sebaiknya dilakukan pada rentang hari ke-tujuh hingga sepuluh setelah hari pertama menstruasi, saat payudara dalam kondisi paling lunak.

Sementara, SADANIS (periksa payudara secara klinis) dilakukan oleh dokter spesialis kanker (Onkologi).

Health Talk

Satu dari delapan wanita memiliki sel kanker payudara yang akan berkembang di sepanjang hidupnya. Pertumbuhan sel  yang tidak normal dan tak terkendali memicu kanker.

Data Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebutkan 60 sampai 70% penderita yang mencari perawatan telah berada pada stadium akhir. Ini disebabkan masih banyak masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan ke dokter,  karena takut jika mengetahui positif terjangkit kanker.

Padahal, semakin dini sel kanker didiagnosa, semakin besar pula kesempatan disembuhkan. Berbagai penanganan seperti ultrasonografi (USG) ataupun mammografi dapat membantu untuk mendeteksi adanya kanker.

Sebuah studi baru hasil investigasi Weill Cornell Medicine dipublikasikan pada bulan Agustus lalu, menunjukkan bahwa mammogram pada wanita berusia antara 40 sampai 80 tahun dapat mengurangi kematian akibat kanker payudara hingga 40%.

Berbeda dengan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh American Cancer Society dan US Preventive Services Task Force dapat menurunkan angka kematian  23 hingga 31%, apabila pemeriksaan rutin dilakukan pada usia lebih lanjut.

Health Talk

Sebuah studi terhadap Mammografi MicroDose (dosis sinar X rendah) tahun 2014, memperlihatkan bahwa sistem MicroDose memungkinkan pendeteksian small invasive cancers dan DCIS melewati yang diharapkan sesuai dengan acuan sistem di Eropa.

Secara teknis Microdose ini menggunakan detektor khusus yang mampu menghitung energi photon secara langsung menggunakan Photon Counting detector (special detector).

Sehingga hanya photon dengan energi level tertentu yang akan terkirim menembus jaringan payudara dan diterima oleh detektor.

MicroDose juga memiliki kualitas pencitraan gambar sangat baik dengan dosis radiasi 50 sampai 60% lebih rendah dibanding mammography DR yang lain.

Dr. dr. Samuel J Haryono, spB(K)mengungkapkan penyebab persis kanker payudara memang tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko antara lain usia, gaya hidup dan keturunan.

Statistik menyebutkan pada wanita usia 30 tahun terdapat perbandingan kasus 1 per 200. Kemudian konsumsi alkohol, lemak, obat-obatan dan rokok dapat memicu tumbuhnya sel kanker.

Terakhir adalah faktor genetik sebesar 5-10%. Menurut dr. Samuel benjolan pada payudara biasanya tidak terasa sakit  dan penderitanya kebanyakan sudah menopause. Angie Diyya | Istimewa

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi November 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here