Cerdas dalam Berutang

Di era modern, kemudahan demi kemudahan disuguhkan untuk masyarakat demi memfasilitasi gaya hidup. Salah satunya adalah fasilitas pinjaman yang diberikan institusi keuangan re­smi sangat membantu untuk mencapai tujuan-tujuan banyak orang.

Contohnya, jika kita ingin membeli rumah, tetapi tidak ada fasilitas KPR, maka kita harus mengumpulkan uang cash untuk membayar penuh di awal. Jika harga rumah incaran terus naik dan anggaran belum terpenuhi, maka bertambah pula jumlah cash yang perlu disiapkan.

Fasilitas lainnya yaitu kartu kredit atau kartu debet. Bayangkan jika tidak ada kartu tersebut, kita harus membawa uang dengan nominal besar ke mana pun. Selain tidak nyaman, perasaan tidak aman akan muncul, karena membawa cash terlalu banyak.

Namun fasilitas tersebut bisa menjadi financial disaster, ketika kita tidak dapat mengatur keuangan. Idealnya, cicilan utang yang sehat adalah maksimum 30-35% dari total penghasilan.

Jika gaji kita Rp10.000.000, maka total semua cicilan dalam satu bulan adalah sebesar Rp3.000.000 hingga Rp3.500.000.

Pada suatu hari, kantor kami, Janus Financial diundang ke sebuah perusahaan untuk melakukan seminar dan financial checkup kepada para karyawan.

Perusahaan mengundang kami, karena mereka sedang terjebak masalah utang. Segala jenis utang dihadapi mereka, seperti utang kartu kredit, utang ke rentenir, utang cicilan 0%, dan lainnya.

Jelas masalah ini akan menggangu produktivitas para karyawan dan membuat perusahaan rentan akan fraud, penyalahgunaan wewenang, korupsi uang maupun waktu.

Cicilan 0% memang sangat menggiurkan. Kita tidak perlu langsung menghabiskan uang dalam satu waktu untuk sebuah barang, tetapi bisa menyicilnya secara berkala.

Sering terjadi saat ini adalah nominal cicilan yang terbilang relatif kecil untuk satu barang. Tanpa disadari total cicilan utang bisa sama atau malah melebihi setengah dari total penghasilan.

Utang memang tidak dilarang, tetapi disarankan untuk lebih memilih utang produktif daripada konsumtif. Utang produktif adalah ketika nilai barang yang dibeli akan naik seiring berjalannya waktu, sementara utang konsumtif, bisa jadi nilai barang yang dibeli jatuh sebelum cicilan rampung.

Bagaimana jika kita sudah terjebak utang? Lalu, apakah yang harus dilakukan?

Woman-Shopping-Credit-Card

The Snowball Method

Dave Ramsey, financial planner di USA menyatakan bahwa personal finance itu terdiri dari 80% perilaku dan 20% pengetahuan matematika. Oleh karena itu, untuk melunasi utang juga harus menggunakan cara yang dapat memberikan efek psikologi kepada seseorang.

Jika disarankan untuk melunasi utang dengan bunga yang paling besar ternyata tidak berpengaruh, dan malah membuat utang semakin banyak, maka bisa dibalik, lunasi utang dengan jumlah paling kecil terlebih dahulu.

Dengan kita mampu membayar satu utang secara penuh, kita akan termotivasi untuk melunasi utang lainnya. Secara psikologi, kita merasa bangga dan bahagia, karena mampu melunasi utang dan secara matematika, cicilan menjadi berkurang.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2016

 

Rubrik ini diasuh oleh Farah Dini Novita, BA (Hons), RFA, CFP

img_07361

Perempuan lulusan The University of Nottingham, Malaysia ini adalah Vice CEO dan senior konsultan keuangan independen Janus Financial. Perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan keuangan individu dan bisnis.

Farah memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam merencanakan keuangan sejak dini.

Dia juga mempunyai blog khusus perencanaan keuangan dari 2010, www.fin-chick-up.com yang empat tahun kemudian dijadikan sebuah buku berjudul FINCHICKUP: Financial Check Up

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here