Cita Tenun Indonesia (CTI) | Jalan Panjang Bangkitkan Kain Tradisional

CTI  ingin membangkitkan sentra tenun di berbagai daerah, menjadi penggerak dan menopang ekonomi”.

Aguste_Soesastro_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_0124 (1)Ari_Seputra_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_0342Chossy_Latu_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_0491

Denny_W_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_0598Stephanus_Hamy_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_1082Priyo_Oktaviano_Cita_Tenun_Indonesia_Adrian_0810

Menyimak perjalanan kain-kain tradisional di Indonesia, maka kita akan merunut sejarah panjang. Hampir di setiap daerah Indonesia memiliki kain tradisional. Tak hanya indah, namun dalam selembar kain-kain ini menyimpan beragam nilai budaya dan filosofi yang tinggi.

Namun di tengah hadirnya  modernisasi, terbersit kekhawatirkan kalau kain-kain indah ini akan punah. Alasan inilah yang membuat beberapa perempuan yang peduli dan ingin melestarikan kain tenun tradisional membentuk wadah bernama Cita Tenun Indonesia (CTI) pada 28 Agustus 2008.

Ada tiga program yang dilakukan oleh CTI yaitu:  pelestarian, pelatihan perajin tenun dan pemasaran. “Dengan tiga program kerja ini CTI berusaha untuk  menggali dan meningkatkan produksi tenun di masing masing daerah,” ungkap Intan Fauzi Fitriyadi selaku Sekjen CTI pada Women’s Obsession.

Sejak didirikan, CTI telah melakukan beberapa program pelatihan dan pengembangan masyarakat perajin tenun. Tujuannya tak lain untuk mengembangkan keterampilan penenun dan menghasilkan tenunan berkualitas, supaya bisa memenuhi selera pasar modern tanpa meninggalkan motif khas daerah setempat. Harapannya, hal ini akan berujung pada perkembangan pendapatan dan kesejahteraan perajin.

Upaya pelestarian yang dilakukan oleh CTI diwujudkan dalam pembuatan buku yang sudah beredar di seluruh dunia oleh karenanya mengikuti ketentuan distributor internasional harus dalam bahasa Inggris.

Buku dijual antara lain melalui Periplus, Kinokuniya dan lainnya. Dia melanjutkan, “Kami sengaja mendistribusikan ke pasar internasional, selain memperkenalkan tenun Indonesia juga merupakan bagian dari tindakan preventif jangan sampai tenun kita diakui sebagai bagian dari negara lain.

Kami sudah menerbitkan dan memasarkan dua buku yaitu Handwoven Textiles of Indonesia (2010) dan  tenun dalam interior dengan judul Woven Indonesian Textiles for the Home (2012). Tahun ini kami akan menerbitkan buku ketiga yaitu: Songket: Weaving pattern into cloth in Indonesia.”

Pelatihan Desain Tenun di Halaban

PELATIHAN DI DAERAH

Untuk pelatihan, CTI sudah melakukan di beberapa daerah. CTI melakukan pelatihan langsung di  sentra-sentra tenun di daerah asal dan dilakukan dalam rentang waktu 1 tahun atau lebih  dengan sekitar lima kali kunjungan.

“Kami sengaja datang ke daerah tersebut karena kami mempertimbangkan kearifan lokal di daerah tersebut. Dari survei kami, kearifan lokal daerah satu dengan yang lain pastinya berbeda.

Misalnya antara lain Bali yang sudah mempunyai motif turun menurun dan teknik yang berbeda dalam berbagai tenunnya. Demikian juga dengan songket Palembang, mereka sudah memiliki motif khas misalnya nagan besaung, bungo cino, nampan berantai, dan lainnya.

Sementara di NTT dengan teknik ikat yang khas dan mereka memiliki motif yang dibuat berbeda antara yang digunakan untuk interior dan dikenakan sebagai kain. Kami ingin mereka tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan filosofinya,” kata Intan.

CTI juga melibatkan instruktur dari balai pelatihan atau institusi pendidikan yang memiliki jurusan tekstil, misalnya tekstil desainer, ahli pewarnaan benang, instruktur struktur kain dan sebagainya.

Dia melanjutan, ”Biasanya para penenun itu memang sudah pandai menenun, namun bagaimana menentukan formula warna, perpaduan warna, tata letak, hal-hal seperti inilah antara lain yang kita berikan kepada mereka, sehingga dalam memproduksi tenun mereka mempunyai perencanaan dalam desain, warna serta efisiensi dalam penggunaan benang, juga tata letak motif dan warna yang mengikuti trend.”

Misalnya ada kain yang memakai tumpal, perlu dipikirkan bagaimana agar menjadi  busana yang baik. Sedangkan untuk interior kita juga perlu melibatkan ahli. Bagaimana rencana akhir dari selembar tenun misalnya untuk menjadi sarung bantal.

Misalnya untuk keperluan produksi kain penutup bantal duduk, Kalau memang memerlukan ukuran 40 cm x 40 cm, penenun tidak perlu membuat tenun yang lebar dan pada akhirnya akan dipotong atau terbuang sisa kain.

Cita_Tenun_Indonesia_Sutan_0847BERAGAM PIHAK

Dalam kegiatan pelatihan CTI melibatkan banyak pihak. Seperti beberapa desainer yaitu Sebastian Gunawan, Biyan dan lainnya. CTI juga bekerjasama dengan beberapa perusahaan seperti Garuda Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI), Perusahaan Gas Negara (PGN), EU-HIVOS, PemdaBanten, dan Dekranasda Sulawesi Tenggara.

Hingga kini, CTI memiliki 12 daerah binaan, bekerjasama dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk  meliputi: Bali (Klungkung, Karangasem, Seraya, dan Jineng Dalem), Provinsi Bali,  Kabupaten  Sambas (Kalimantan Barat),  Lombok (NTT), Halaban (Sumatera Barat), dan Labuan Bajo (NTT).

Sedangkan binaan bekerjasama dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk adalah: Indralaya (kabupaten Ogan Ilir, Sumsel), dan Waingapu (Sumba Timur, NTT). Kolaborasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk adalah kabupaten Garut dan kabupaten Majalaya (Jabar). Untuk Baduy (Banten) CTI melibatkan Pemda Banten.

Selain itu, CTI juga  menjalin kerjasama dengan  EU-HIVOS dan Pemda Sultra, meliputi seluruh Kabupaten Sulawesi Tenggara dan Jembrana (Kabupaten Negara, Bali), dan tahun ini terbaru adalah Solo (Jawa Tengah).

Dari pelatihan inilah CTI lebih mendalami masalah tenun di berbagai daerah di Indonesia. CTI ingin lebih menyentuh esensi dalam tenun dan berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin tenun khususnya. Dari kerja sama ini, juga membuat berkelanjutan. Mereka bisa menerima order dari perusahaan tersebut.

Cita_Tenun_Indonesia_Sutan_0047TINGKATKAN PENGHASILAN

“Ternyata ada banyak hal yang dilakukan CTI. Seperti misalnya di Palembang, kebetulan saya koordinator pelatihan di Palembang. Songket Palembang itu membutuhkan keahlian tinggi, ternyata yang saya temukan banyak yang masih menggunakan benang jahit.

Sayang sekali. Hal-hal seperti ini yang kita bisa sharing dan untuk diperbaiki. Atau mungkin, mereka sebetulnya tahu kalau benang jahit tidak bagus, tetapi mereka tidak punya akses,” ungkap Intan.

Yang juga ditemui adalah menenun itu biasanya hanya mereka kerjakan sebagai sambilan sehingga produk tenun tidak maksimal.

Dia menjelaskan, “Kendala lainnya bagi perajin adalah pemasaran, oleh karena itu CTI berusaha membantu dalam hal pemasaran melalui berbagai kegiatan di mana mereka peran serta dalam pameran, juga presentasi dalam produk busana dan interior oleh top desainer Indonesia sehingga diharapkan perajin dapat pesanan berkelanjutan baik retail maupun institusi.

CTI adalah organisasi non profit, sehingga kita hanya menjembatani perajin dan tidak mengikat mereka, jadi kami bukan pengumpul kain,” tambahnya.

Selain itu kami berikan mereka bekal teknik pemasaran, kemasan, cara menghitung harga jual, kelengkapan pameran, display barang dan lain-lain.

“Mereka kita ajak berpikir sistematis. Misalnya kalau mereka ingin pameran enam bulan lagi. Bagaimana mereka harus menghitung produksi, persiapan, dan lain-lain. Jadi mereka belajar mekanisme bekerja dalam kelompok agar menjadi usaha berkesinambungan,” jelasnya.

“CTI  ingin membangkitkan sentra tenun di berbagai daerah, menjadi penggerak dan menopang ekonomi. Mereka sudah memiliki keahlian menenun, mereka tidak perlu menjadi TKI.

Ekonomi kreatif melalui tangan terampil penenun adalah potensi besar yang kita miliki. Para perajin tenun berskala UKM bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia.

Ini yang kami coba kembangkan agar memajukan tenun dan memberdayakan ekonomi,” ungkapnya menutup pembicaraan. Aryani Indrastati | Dok. CTI

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here