Indahnya Diskusi yang Sehat

Menikah adalah proses menyatukan dua pribadi yang sama sekali berbeda. Meminjam perumpamaan yang sering dilontarkan para sesepuh tentang perjalanan kehidupan bak menaiki anak tangga. Sepertinya, gejolak perbedaan antarpasangan salah satu anak tangga yang ditapaki untuk tiba di puncak kedewasaan. Jadikan perbedaan sebagai dorongan menapaki tangga kehidupan selanjutnya. Tidak perlu gentar menghadapi perbedaan atau gesekan dalam suatu hubungan. Momen ini adalah bukti kekuatan dan ketulusan cinta Anda pada pasangan.

arguing-man-woman   “Jangan harap setiap hubungan akan selalu indah. Justru setelah mengalami perbedaan, romansa itu akan lebih terasa. Secara psikologis, hubungan antarmanusia memang selalu berhadapan dengan fase berbeda. Dengan diri sendiri saja, kita mengalami pertentangan antara hati dan pikiran sendiri, bukan? Ketika mendapatkan perbedaan atau kesalahan pasangan, marah adalah reaksi pertama kita. Marah adalah perwujudan dari energi yang berlebih. Dan, kita sering memilih pertengkaran sebagai outlet energi yang berlebih itu. Jadi alangkah baiknya, energi yang berlebih itu diarahkan ke dalam diskusi sehat dan terbuka,” ujar Rosdiana Setyaningrum M.psi. M.hped.,psikolog & pelatih di Diana & Associate.

Menciptakan suasana diskusi yang sehat dan terbuka sangat mudah dengan mengenal karakter pasangan dan terbuka melihat masalah dari berbagai pandangan. Satu lagi elemen terpenting dalam berdiskusi, yang dicari bukan kata ‘selesai’, melainkan kata ‘sepakat’ dari Anda berdua.

Berbeda itu bukan masalah

Awal mula gesekan adalah adanya perbedaan. Sikapi perbedaan ini dengan tujuan menjaga kelanggengan hubungan. Selama perbedaan itu bukan hal yang mendasar, jadikan perbedaan sebagai bentuk kasih Anda kepada pasangan.

Bertanggung jawab

Lain ceritanya bila kesalahan adalah sumber gesekan. Bila salah satu dari Anda melakukan kesalahan, seperti berbohong, akui kalau itu memang salah. Bila Anda mengakui kesalahan, jangan menggunakan jurus serang balik, yaitu mengaitkan kesalahan Anda dengan menyalahkan pasangan juga atau mengungkit kesalahan lain pasangan. It’s not fair. 

Kenali diri sendiri dan pasangan

Penting sekali menyadari karakter diri dan pasangan. Bila Anda tipikal berekspresi dengan emosi meledak-meledak, jujur yang terlalu menyakitkan, atau sulit mendengar masukan, coba berdiam diri selama 10 menit sebelum menjelaskan pemikiran Anda. Berdiam diri memberi banyak manfaat untuk melihat perbedaan dalam kondisi emosi yang tenang. Baik pula untuk mencegah perkataan atau perbuatan yang akan Anda berdua sesali di kemudian hari.

Namun akan lain ceritanya bila Anda tipikal pendiam, sulit menyampaikan pendapat, atau terlalu sungkan dengan pasangan, coba tanamkan pikiran bahwa pasangan bukanlah cenayang. Ungkapkan pemikiran dan keinginan Anda dengan rinci dan terbuka.

Terbuka dengan sehat

Ketika menyampaikan pendapat, gunakan pemilihan kata yang tidak menyinggung, kasar, atau meremehkan pasangan. Dengan begitu, Anda dapat mengungkapkan perbedaan dari sudut pandang yang lebih jelas, lebih jujur, dan nyaman terbuka dengan pasangan.

Gunakan telinga, bukan mulut

Mendengar salah satu formula terpenting untuk menemukan solusi perbedaan di antara pasangan. Kalau keduanya sama-sama berbicara, lalu siapa yang mendengar dan memahami? Berikan waktu 10 menit untuk pasangan berbicara tanpa dipotong oleh pendapat Anda, begitu juga sebaliknya.

COUPLE-FIGHTING

Tak ada kata terserah

Sikapi pertengkaran dengan kepala dingin, tapi jangan bersikap acuh pula. Dahulukan logika dibandingkan mengikuti emosi negatif yang berlebih. Contohnya, perhatikan nada bicara atau respons yang Anda tunjukkan,seperti ‘oh okeh’, ‘yaudah’, ‘ikut saja’, ‘terserah kamu’.

Tunjukkan kesungguhan

Ketika pasangan sedang menyampaikan pendapat, tunjukkan kesungguhan Anda untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jangan merespons sambil mengalihkan pandangan seperti sibuk dengan telepon genggam atau menonton televisi.

 Jangan mengungkit masalah lalu

“Perempuan adalah ahli sejarah. Saat berhadapan dengan masalah yang sudah pernah terjadi atau kebiasaan buruk pasangan yang berulang, kita kerap mengingatnya,” ujar Rosdiana dengan lugas. Sebaiknya hindari mengungkit masalah lalu karena pasangan semakin merasa disakiti dan bukti Anda belum move on.

Untuk konsumsi berdua saja

Bila sedang kesal atau berbeda dengan pasangan, jangan pernah melakukannya di depan teman, mertua, orangtua kita sendiri, bahkan anak. Kondisi ini bisa berpengaruh pada kondisi kejiwaaan anak. Sementara bila pertengkaran diekspos di depan orang dewasa lainnya, secara tidak langsung Anda berbagi masalah pribadi yang sebaiknya tidak melibatkan campur tangan pihak ketiga.

Sepakati berdua

Ujung manis dari sebuah diskusi sehat adalah solusi. Untuk mendapatkan solusi terbaik dibutuhkan pemikiran dan kesepakatan berdua. Hubungan ini dijalani Anda berdua, butuh kesungguhan berdua untuk menjalaninya. Agar langkah terasa ringan dengan pasangan yang setia menemani hingga tutup usia. (Silvy Riana Putri) Foto : Istimewa 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here