Maria Dewantini Dwianto | Mensyukuri Setiap Kesuksesan

Maria Dewantini Dwianto

Pepatah life begins at 40 bisa jadi melekat erat pada diri Maria Dewantini Dwianto–akrab disapa Mia.  Berusia lebih dari 40 tahun, Mia menjadi sosok perempuan yang benar-benar sedang menikmati hidupnya.

“Kalau dahulu saya sibuk mengasuh anak dan bekerja, kini anak-anak sudah besar. Saya pun  bebas menggali banyak hal dalam diri saya lagi. Di titik sekarang ini saya benar-benar happy dan balance,” ungkapnya riang membuka percapakan dengan Women’s Obsession.

Dalam keseharian selain bekerja, dia ternyata  memiliki beragam aktivitas fisik. Mulai dari gym, menari salsa Latin, MMA (mix martial art seperti submission body grappling dan jiu-jitsu) maupun belly dance.

Mia menjadikan hari-harinya diisi beragam kegiatan fisik dan telah menjadi kebiasaan. Kalau urusan yang membutuhkan banyak berpikir, sepertinya sudah terkuras di kantor. Tak heran, tubuhnya terlihat langsing, segar, dan awet muda.

 SEPENUH HATI

Mia bergabung sejak tahun 2003 sebagai external communications manager di PT Unilever dan pada tahun 2008 dia dipromosikan menjadi sebagai Head of Corporate Communications. Tak terasa dia sudah bekerja selama 12 tahun.

“Saya menilai perusahaan ini cukup memberikan apresiasi tinggi kepada karyawan dan memberikan pengaruh bagi masyarakat. Banyak program-program perusahaan yang memberikan efek langsung untuk masyarakat.

Misalnya saja, Project SunLight Indonesia,  Senyum Indonesia, Gerakan Cuci tangan, dan lainnya. Saya senang terlibat langsung dalam memajukan masyarakat,” tuturnya bangga.

Memang bukan tugas mudah. Tetapi, dia menjalaninya dengan semangat dan sepenuh hati. Kebanyakan isu ada sebelum sampai telinga publik sudah bisa diredam. Justru kalau di masyarakat tidak mendengar ada  isu, berarti timnya bekerja dengan bagus.

Melihat tantangan yang dihadapinya sekarang ini, Mia melihat salah satu hal yang harus lebih jeli dipikirkan adalah kemungkinan menghadapi beragam hal dari ranah  media sosial. Saat ini sepertinya setiap orang memiliki account di media sosial yang dapat mengungkapkan apapun setiap saat.

Mereka bisa  langsung  tweet dan share di Facebook, Instagram, Path, dan lainnya. “Bagi saya yang bergerak di bidang komunikasi, hal ini termasuk hal sulit untuk dikontrol. Kalau ada isu di media massa yang mainstream masih bisa diredam, artinya di media massa saya masih bisa mempunyai ada hak jawab, klarifikasi dan kode etik,” katanya.

Dalam media sosial, dia mempunyai istilah Dolphin Issue.  Artinya kalau satu isu di media sosial sudah selesai, bukan tidak mungkin akan muncul lagi. Bisa setahun, dua, atau tiga tahun berikutnya. Cara penangannya memang berbeda dan harus cepat sebelum membesar.

Sejak awal kerja Mia memang sudah langsung bekerja di bidang komunikasi. “Saya lulusan Sastra Inggris, Universitas Indonesia. Ilmu sastra Inggris seperti kajian puisi atau drama Shakespeare, memang tidak terpakai. Tetapi, banyak ilmu seperti cara kita menginterpretasikan sesuatu dan mengungkapkan apa yang kita pikirkan ternyata sangat membantu dalam berbagai tugas di bidang komunikasi.

Mungkin saya memang tidak akrab dengan berbagai teori komunikasi, namun bisa learning by doing,” katanya bersemangat. Aryani Indrastati | Fikar Azmy

  

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2015

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here