Menabung Saham = Gaya Hidup

Menabung selalu identik dengan produk perbankan sehingga ketika Bursa Efek Indonesia mengeluarkan program YUK NABUNG SAHAM pada tanggal 12 November 2015, banyak pertanyaan muncul dari masyarakat. Apakah yang dimaksud dengan menabung saham? Kenapa kita harus menabung saham? Apa bedanya dengan menabung di bank?

Belum seperti masyarakat di negara lain yang sudah menjadikan saham sebagai salah satu aset wajib pada portofolio keuangan mereka, menabung saham masih terasa asing bagi masyarakat Indonesia.

Penetrasi pasar modal di Indonesia terbilang relatif sangat rendah pula dibanding negara lain di Asia. Ini dapat terlihat dari jumlah investor lokal yang jauh di bawah investor asing.

Dari hasil data terakhir 2015, menunjukan bahwa investor lokal di pasar modal Indonesia hanya 36.34% , sisanya didominasi oleh asing. Tergelitik bertanya, kenapa investor asing lebih percaya pada pasar modal Indonesia daripada kita sendiri?

Bukankah seharusnya kita yang jauh lebih familiar dengan pasar modal sendiri daripada para investor asing.

Tujuan dari program YUK NABUNG SAHAM ini diharapkan dapat mengubah contoh persepsi-persepsi masyarakat yang keliru mengenai saham di bawah ini.

  1. Investasi saham hanya untuk orang yang pintar keuangan

Berinvestasi saham sama dengan tawaran untuk menanamkan modal di bisnis teman atau kerabat Anda.

Bayangkan, saat Anda menawarkan menabung saham dari produk keseharian yang juga dikenal kerabat.

Ini menjadi pengalaman yang menyenangkan karena Anda tidak hanya mengonsumsi produk suatu perusahaan, tetapi juga memiliki aset kepemilikan dari perusahaan tersebut.

  1. Saham hanya untuk orang berduit

Menabung saham dapat berupa langsung membeli saham – saham perusahaan terbuka melalui sekuritas atau secara tidak langsung berupa reksadana di perusahaan aset manajemen / Manager Investasi (MI).

Minimal pembelian saham atau reksadana dapat dimulai dari Rp.100,000.- s/d Rp.1.000.000,- tergantung kebijakan perusahaan sekuritas/MI .

 

  1. Saham bisa rugi besar

Banyak orang mengatakan “Main Saham” seperti permainan di mana ada yang kalah dan ada yang menang. Ditambah lagi dengan pertanyaan penuh kekhawatiran seperti, bukankah harga saham bisa turun? bagaimana jika uang saya hilang?

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Januari 2016

 

Rubrik ini diasuh oleh Farah Dini Novita, BA (Hons), RFA, CFP

img_07361

Perempuan lulusan The University of Nottingham, Malaysia ini adalah Vice CEO dan senior konsultan keuangan independen Janus Financial. Perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan keuangan individu dan bisnis.

Farah memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam merencanakan keuangan sejak dini.

Dia juga mempunyai blog khusus perencanaan keuangan dari 2010, www.fin-chick-up.com yang empat tahun kemudian dijadikan sebuah buku berjudul FINCHICKUP: Financial Check Up For Ladies.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here