Mitos dan Fakta Seputar Orgasme Wanita

Untitled-5Survey dan penelitian semakin banyak membuktikan bahwa aktivitas hubungan intim sangat bermanfaat secara fisik, emosional, psikologis, bahkan secara sosial. Tapi jika menyangkut seputar orgasme, khususnya wanita, maka sampai saat ini kaum perempuan masih sulit membedakan mana mitos mana fakta. Berikut ini mitos dan fakta seputar orgasme wanita.

1.    Usia mengurangi peluang orgasme
Ada anggapan bahwa semakin berumur seorang wanita maka semakin sulit mencapai orgasme.

Fakta:
Setiap kali berhubungan intim, setiap wanita memiliki kemungkinan mencapai orgasme, bahkan yang berusia di atas 50 tahun. Dengan meningkatnya kecocokan, kepercayaan diri, kenyamanan, dan kedekatan dengan pasangan, justru wanita berumur di atas 40 tahun lebih mudah mencapai orgasme dan klimaks.

Sebuah suvey belum lama ini menunjukkan sebanyak 70% wanita berusia di atas 50 tahun mengaku mencapai orgasme setiap kali melakukan hubungan intim dengan pasangan.

2.    Sulit mencapai orgasme sudah kodrat wanita
Sebagian wanita beranggapan adalah lumrah jika mereka tidak mencapai orgasme (dikenal dengan anorgasmia). Berbeda dengan kaum pria yang 100% akan mencapai klimaks.

Fakta:
Sebagian wanita tak menyadari bahwa sesungguhnya ia sudah mengalami orgasme. Apalagi jika ukurannya hanya teriakan dan kontraksi otot. Merasa rileks dan senang seusai bercinta sebenarnya tanda wanita telah mencapai orgasme. Sesungguhnya wanita jauh lebih menikmati kedekatan dan keintiman fisik-emosional dengan pasangannya pada saat bercinta, bukan kegiatan seks itu sendiri.

3.    Wanita hanya bisa orgasme melalui penetrasi
Anggapan bahwa wanita hanya bisa mencapai orgasme dengan penetrasi juga mitos.

Fakta:
Satu dari tiga perempuan mendapatkan orgasme secara teratur selama hubungan seksual. Beberapa dapat mencapai orgasme dengan melakukan hubungan seksual tetapi membutuhkan tindakan ekstra untuk membangkitkan tindakan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orgasme bisa didapatkan kapan pun selama proses hubungan intim.

Untitled-64.    Kondom membuat wanita sulit orgasme
Ada anggapan bahwa penggunaan kondom akan semakin mempersulit wanita mengalami orgasme.

Fakta:
Hingga kini tak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan itu. Faktanya, kondom justru membuat pria lebih tahan lama sehingga pasangannya pun semakin berpotensi mencapai klimaks.

5.    Tak bisa orgasme berarti frigid
Ada pula anggapan bahwa wanita yang merasa tak pernah mengalami orgasme adalah wanita frigid.

Fakta:
Wanita yang merasa tidak pernah mengalami orgasme mungkin hanya karena tidak menyadari apa yang ia butuhkan untuk bisa mencapai orgasme, bukan berarti tak bisa orgasme. Mungkin saja ia tidak tahu persis bagian tubuhnya yang harus distimulasi untuk mengalami orgasme.

6.    Tak lagi bisa orgasme berarti ada masalah dengan pasangan
Wanita yang pernah merasakan orgasme namun merasa tak lagi bisa mengalaminya, kerap merasa bahwa ada masalah dengan hubungannya dengan pasangan.

Fakta:
Tak lagi bisa merasakan orgasem bisa jadi bukan karena hubungan yang tak lagi harmonis, tapi lantaran masalah medis atau dampak dari obat-obatan tertentu. Diabetes, multiple sclerosis, kanker, dan cedera tulang belakang dapat merusak proses fisiologis untuk mencapai orgasme. Obat tekanan darah, antihistamin, psikotropika, dan obat-obatan di kelas anti-depresi menjadi penyebab umum gangguan orgasme.

7.    Orgasme wanita sepenuhnya tanggung jawab pasangan
Tak sedikit wanita yang menimpakan kesalahan kepada pasangan jika ia tidak bisa mengalami orgasme.

Fakta:
Pria memang berperan menstimulasi pasangan wanitanya untuk mengalami orgasme dan mencapai klimaks. Tapi, tanggung jawab sepenuhnya adalah wanita sendiri. Studi baru menemukan, khayalan erotis dan fokus pada sensasi tubuh selama berhubungan intim dapat membantu wanita untuk mencapai orgasme. Lagipula, wanita harus menjadi “guide” bagi pasangannya untuk menunjukkan bagian mana yang seharusnya distimulasi. Karena, “G Spot” wanita tak selalu berada di bagian klitoris.

8.    Orgasme wanita dipengaruhi faktor genetik
Ada juga anggapan bahwa kesulitan orgasme pada wanita dipengaruhi faktor keturunan atau genetik.

Fakta:
Faktor gen memang memiliki dampak langsung pada orgasme wanita. Tapi studi ilmiah membuktikan faktor keturunan hanya sepertiga dari penyebab kesulitan orgasme wanita.

9.    Orgasme menentukan jenis kelamin bayi
Ada anggapan bahwa jika wanita mencapai orgasme dan klimaks lebih dulu dibanding pasangannya, maka bayinya akan berkelamin wanita.

Fakta:
Tak ada bukti ilmiah yang mendukung hal itu. Saat wanita mengalami orgasme, tubuh akan mengeluarkan hormon endorphin yang bersifat muscle relaxant (merelaksasi otot) dan psychic relaxant (merelaksasi psikis). Hormon ini tidak bisa mempengaruhi proses genetik penentu jenis kelamin bayi.

10.    Wanita lebih jarang orgasme dibanding pria
Umum dipahami bahwa pria mengalami orgasme lebih banyak atau lebih sering dari wanita.

Fakta:
Studi di Indiana University, AS, menemukan bahwa 32% wanita mengalami orgasme sama seperti pria selama bercinta pada kali pertama, 49% orgasme saat bercinta lagi dengan pasangan yang sama, dan 79% orgasme dalam hubungan yang berkomitmen. Lagipula, wanita jauh lebih berpeluang mencapai multiorgasme ketimbang pria.

 
Fakta-fakta Menarik tentang Orgasme Wanita

1.    Beberapa ilmuwan meyakini orgasme saat berhubungan seks bisa memperbesar peluang seorang perempuan untuk bisa hamil. Dasar ilmiah dari dugaan ini adalah peningkatan hormon oksitosin saat orgasme yang dapat merangsang kontraksi indung telur, sehingga sperma terdesak untuk masuk dan membuahi sel telur.

2.    Untuk mempercepat orgasme, perempuan rata-rata membutuhkan stimulasi di daerah G-spot selama 20 menit. Stimulasi pada klitoris juga membutuhkan waktu yang kurang lebih sama untuk mencapai orgasme.

3.    Diperkirakan 24-37 % perempuan tidak pernah merasakan klimaks atau orgasme seumur hidupnya.

4.    Tidak semua perempuan bisa mencapai orgasme lewat rangsangan di daerah G-spot. Berdasarkan penelitian di Italia pada tahun 2008, sebagian perempuan memang tidak memiliki daerah khusus di bagian kelamin yang paling peka terhadap rangsang seksual sehingga hanya mengandalkan rangsangan pada klitoris untuk bisa orgasme.

5.    Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy), terapi testosteron, serta herbal seperti gingseng dan ginko biloga terbukti efektif meningkatkan kemampuan untuk mencapai orgasme pada perempuan.

6.    Orgasme terbukti baik untuk kesehatan, antara lain mengurangi sensitivitas terhadap rasa nyeri, mencegah kram saat menstruasi dan meredakan stres. Diduga, manfaat tersebut merupakan efek dari peningkatan hormon dopamin dan oksitosin.

7.    Sejak zaman Yunani kuno hingga era Sigmun Freud, banyak dokter memanfaatkan orgasme untuk menyembuhkan gangguan mental pada perempuan yang disebut histeria. Dengan tujuan yang sama, vibrator diciptakan sebagai alat bantu di era 1800-an akhir.

8.    Seseorang sering tidak bisa berpikir jernih saat sedang bergairah secara seksual. Hasil pemindaian otak memastikan hal itu, sebab orgasme terutama pada perempuan melibatkan hampir seluruh bagian otak dan membuat bagian-bagian tertentu tidak aktif untuk sementara waktu.

9.    Hubungan seks saat menstruasi sangat tidak dianjurkan karena ada pembuluh darah yang terbuka sehingga tidak higienis. Namun cukup masuk akal jika ada anggapan bahwa orgasme pada saat itu lebih mudah tercapai, sebab aliran darah di daerah genital sedang mengalami peningkatan.

10.    Salah satu keunikan orgasme pada perempuan dibanding pada laki-laki adalah bisa terjadi berulang kali secara beruntun sehingga disebut multiorgasme. Rekor multiorgasme dicetak oleh salah satu pasien dokter William Hartman dan dokter Marilyn Fithian pada tahun 1970-an, yakni 134 kali dalam 1 jam atau sekitar 2 kali/menit.

11.    Tahun 1967, Desmond Morris dalam bukunya ‘The Naked Ape’ mengatakan orgasme yang dialami perempuan adalah bagian dari proses evolusi. Fungsi orgasme bukan hanya memberi kenikmatan, melainkan juga menghadirkan rasa lelah untuk mempertahankan posisi horizontal sehingga sperma tidak tumpah. Dengan cara ini manusia bisa lolos dalam seleksi alam, karena punya kemampuan untuk melakukan reproduksi dengan lebih efektif.

Naskah: Andi Nursaiful/berbagai sumber Foto: Istimewa

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here