Perjalanan Dunia Geisha

Pada awalnya istilah geisha sebenarnya merupakan sebutan untuk para pria yang menjadi houkan (pelawak di istana kaisar).

Mendengar nama geisha, maka akan terlintas di benak kita sosok perempuan jepang, rambut bersanggul tinggi dan kaku, mengenakan obi (busana khas Jepang), wajah berbedak putih mencolok, bibir merah, dan berjalan gemulai mengenakan kelom kayu.

Ya, Geisha identik dengan salah satu budaya Jepang sejak dahulu. Sebetulnya membicarakan geisha ada kekeliruan makna di masyarakat.

Tidak sedikit orang berpikir kalau geisha adalah sebutan untuk pekerja seks.

Faktanya tidak demikian. Arti geisha sebenarnya adalah seniman atau artis yang berasal dari huruf kanji gei dan sha seni. Jadi, geisha bermakna perempuan yang memiliki kemampuan tinggi dalam hal berkesenian. Geisha diresmikan pada akhir tahun 1800-an.

 

SEJARAH PANJANG

article-0-1AD9BD29000005DC-734_964x927Merunut perjalanan sejarah, keberadaan geisha sudah ada sejak zaman dulu dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Awalnya, istilah geisha sebenarnya merupakan sebutan untuk para pria yang menjadi houkan (pelawak di istana kaisar).

Namun seiring berjalannya waktu, hadir sosok perempuan yang ikut dan dikenal sebagai onna geisha dan selanjutnya disebut geisha hingga sekarang.

Sejarah geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa sekitar abad ke-13, ketika Jepang sedang dalam masa damai. Pada 1800, menjadi geisha dianggap sebagai pekerjaan perempuan.

Akhirnya, oiran (pekerja seks) mulai tersingkir, karena kurang populer, chic, dan modern dibandingkan geisha. Pada tahun 1830-an geisha menjadi populer. Gayanya begitu berkembang dan ditiru oleh perempuan modis di masyarakat.

Perang Dunia II membawa penurunan besar dalam seni geisha.  Saat itu, kebanyakan perempuan harus pergi ke pabrik-pabrik atau tempat-tempat lain untuk bekerja.

Nama geisha juga kehilangan makna prestige,  karena sebutan ‘pelacur’  mulai mengacu pada diri mereka sebagai ‘geisha girls’.  Istilah ini muncul dari kalangan orang-orang militer Amerika.

Pada tahun 1944 dunia geisha, termasuk kedai-kedai teh, bar dan rumah geisha, terpaksa ditutup, dan semua yang terlibat dipekerjakan di pabrik-pabrik.

Sekitar setahun kemudian baru diizinkan untuk dibuka lagi. Namun, beberapa perempuan yang kembali ke daerah geisha memutuskan untuk menolak pengaruh Barat dan tetap melakukan dengan cara-cara tradisional dalam dunia hiburan.

 

PEREMPUAN MANDIRI

TsuneyuDalam berberapa aspek, geisha dinilai menjadi semacam gerakan feminisme di negeri Sakura. Selain menarik dalam hal budaya, geisha  mendatangkan keuntungan lewat kepiawaian profesinya.

Hal inilah yang menyebabkan geisha menjadi satu-satunya profesi di Jepang yang ditempatkan pada posisi teratas.

Selain itu, dalam struktur masyarakat Jepang, geisha memiliki peranan dalam dunia politik. Meskipun, mereka tidak ikut menyumbangkan suara langsung, tetapi mereka memiliki kecakapan tinggi yang kerap kali terlibat dalam upaya suatu konspirasi politik.

Seperti, menjatuhkan seorang politikus maupun terlibat dalam urusan mendapatkan informasi rahasia negara. Kesadaran akan pentingnya geisha, membuat pemerintahan Jepang membentuk Kenban sebagai badan yang mengatur, agar geisha memiliki batas dengan oiran atau yujo (pekerja seks).

Geisha sebagai gerakan feminisme juga memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan ekonomi di Jepang, profesinya memberikan penghidupan bagi banyak orang. Gion Corner, salah satu desa geisha di Kyoto menjadi saksi berputarnya siklus perekonomian yang bergerak secara lancar.

Keberadaan geisha menciptakan lapangan pekerjaan, seperti pendirian kedai-kedai teh, asosiasi geisha, penjahit kimono, dan rumah-rumah okiya. Harga sewanya cukup mahal dan tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Tak heran, geisha juga menyumbang pendapatan untuk pembangunan negara melalui pajak.

Perempuan dalam masyarakat geisha di antaranya menjadi pengusaha paling sukses di Jepang. Dalam komunitas tersebut, perempuanlah yang menjadi pemimpin.

Tanpa keterampilan bisnis dari pemilik kedai teh perempuan, dunia geisha tidak akan ada lagi. Mereka yang menjalankan rumah geisha, terbiasa menjadi guru, mengatur kedai teh, merekrut geisha, dan tetap berusaha agar tetap mendapat pemasukan.

Peran pria dalam kehidupan geisha hanyalah sebagai tamu.

Secara historis, para feminis Jepang telah melihat geisha sebagai eksploitasi perempuan. Namun, kini telah berubah. Karena geisha zaman sekarang lebih merupakan sebuah pilihan.

ZAMAN MODERN

Jose-and-Linaka-clearerLain halnya dengan dulu, geisha di zaman modern tidak lagi berasal dari keluarga miskin atau yatim-piatu. Siapapun bisa melakukannya, namun yang pasti dituntut untuk menguasai berbagai bidang kesenian Jepang tradisional.

Mulai dari ikebana (seni merangkai bunga), chanoyu  (upacara minum teh), menari tarian tradisional, kaligrafi, membuat puisi, bermain alat musik tradisional shamisen, kodaiko (drum kecil yang dimainkan menggunakan stik kayu), hingga mempelajari bahasa Inggris.

Kini jumlah geisha di Jepang kian berkurang drastis. Kalau pada tahun 1920-an  bisa mencapai 80.000 orang, sekarang hanya kurang dari 10.000 orang.

Di samping pengaruh masuknya budaya Barat, penyebab lainnya adalah karena mereka harus mengikuti proses training yang memakan waktu lama dan detail. Selain itu, mahalnya harga sewa geisha membuat orang-orang memilih alternatif hiburan lain pada saat berpesta.

Walaupun, sudah langka para geisha modern masih bisa ditemukan di distrik geisha Kyoto dan Tokyo. Demikian juga maiko yang masih berkeliaran di distrik Kyoto, seperti Gion dan Pontocho, maupun distrik Higashi Geisha di Kanzawa.

Tercatat pula beberapa perempuan non-Jepang  terjun menjadi geisha. Liza Dalby bekerja sebentar sebagai geisha untuk penelitian doktornya pada tahun 1970, meskipun tidak secara resmi.

Pada tahun 2007, warga Australia Fiona Graham mencoba profesi geisha dengan nama Sayuki di distrik Asakusa Tokyo. Dia telah dilaporkan sebagai orang asing pertama yang tertarik menjadi geisha sepenuhnya. Aryani Indrastati | Istimewa 

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2015

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here