Agustina Wilujeng Pramestuti | Kebudayaan Landasan Pengambilan Keputusan

Agustina Wilujeng Pramestuti

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDIP

Menjadi salah satu sosok yang mengawasi bidang pertanian dari penyediaan benih hingga kelancaran proses jual beli, dia selalu memastikan para petani mendapatkan haknya untuk meningkatkan kesejahteraan.

 

Perempuan berpembawaan kalem ini menjadikan baktinya di Senayan sebagai bagian dari perjuangan di era modern untuk kemajuan Tanah Air. Selain membantu para petani, nelayan, dan masyarakat lain dengan pemerintah, dia juga berupaya mengajak semua lapisan untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang sudah dirintis founding fathers kita, Bung Karno. Yaitu kedaulatan dan rasa gotong-royong yang menjadi ciri khas bangsa ini.

Agustina Wilujeng Pramestuti menjadi jembatan penghubung antara aspirasi masyarakat dengan pemerintah. Menangani bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan, dia tengah menjalani program Desa Mandiri Benih. Yaitu mampu menghasilkan benih sendiri dan tidak bergantung pada stok di pasaran sebagai salah satu tujuan yang ingin dicapai. Hal ini dirasa dan diyakini akan berhasil, karena benih-benih yang akan digunakan berasal dari panen para petani itu sendiri. Telah berjalan sejak dua tahun terakhir, program tersebut juga menghasilkan padi dengan nama MSP (Mari Sejahterakan Petani).

Menjadi salah satu sosok yang mengawasi bidang pertanian dari penyediaan benih hingga kelancaran proses jual beli, dia selalu memastikan para petani mendapatkan haknya untuk meningkatkan kesejahteraan. Memastikan pangan menjadi murah dan mudah, bukan hal mudah dan dibutuhkan keseimbangan. Sebut saja jika suatu daerah kekurangan pupuk, maka koordinasi dengan wilayah lain agar segera mengirimkan ketersediaan pupuk menjadi salah satu solusi yang diterapkan.

Sayangnya, ketidakstabilan ekonomi kerap menjadi kendala yang cukup berarti. Ketidaksediaan pangan untuk hewan ternak sempat terjadi. Harga jagung yang biasanya Rp3000 melonjak hingga Rp7000. Tidak hanya itu, stok terbatas selama kurang lebih dua minggu juga membuat para petani kewalahan memberi pakan hewan ternaknya, terutama ayam. Dari sinilah, wanita kelahiran Semarang 11 Agustus 1971 ini berharap Indonesia mampu lebih berdaulat dengan keberagamannya dan gotong royong. Salah satu faktor terkikisnya identitas bangsa tersebut adalah penggunaan gadget secara berlebihan atau yang tidak sesuai pemanfaatannya, sehingga membuat masyarakat lebih banyak ‘hidup’ di dunia maya.

Aktif mengkritisi dunia pangan Indonesia, perempuan murah senyum ini tak melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu. Dia memiliki rumusan tersendiri dalam berbagi waktu, terlebih keluarga kecilnya tersebut tidak ikut hijrah ke ibukota. Terbang Jakarta-Semarang dalam waktu satu dua hari, bukan hal asing baginya. Melakukan komunikasi lewat videocall menjadi salah satu cara yang ditempuhnya di tengah berbagai kegiatan.

Ketika bertemu dengan ketiga buah hatinya, dia lebih memilih komunikasi dua arah yang terbuka. Menjalin diskusi yang membangun kepada anak perempuan dan dua anak lelakinya, tanpa merasa bersalah karena menjalani peran sebagai anggota dewan. “Tentu berbeda, intensitas kehadiran saya, bila saya menjadi fulltime mother. Ketika menemui tantangan, saya selalu membuka diskusi dengan mereka,” ungkap perempuan yang hobi membaca ini.

Di kala senggang, dia gemar melakukan kegiatan di luar ruangan. “Saya senang beraktivitas di alam. Sembari relaksasi menghirup udara segar, juga bermanfaat dalam menguatkan karakter mandiri dalam diri anak-anak,” serunya bersemangat. Perempuan yang hobi olahraga ekstrem seperti paralayang dan rafting juga senang bercocok tanam. Salah satu dunia yang akrab dengan kaum Hawa.

Kecintaan yang besar terhadap dunia tanam-menanam diwujudkan di huniannya yang asri. Dia banyak menanam anggrek, buah manggis, jeruk, mangga, dan jenis lainnya. Ini adalah salah satu wujud kepeduliannya terhadap alam yang membuat bumi menjadi seimbang dan menyejukkan.

Naskah: Indah Kurniasih | Foto: Fikar Azmy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here