Danu Sofwan | Selalu Ingin Belajar

Dengan berbisnis waralaba Radja Cendol (Randol), dia belajar memperbaiki kehidupan keluarga, menciptakan lapangan kerja, dan belajar memberikan dampak positif bagi kesehatan maupun pelestarian kuliner masyarakat Indonesia.

 

Kekuatan belajarnya diuji saat keluarga mengalami kebangkrutan di tahun 2006 dan kepergian ayah untuk selama-lamanya di tahun 2008. Berbagai usaha pernah dijalaninya, mulai dari menjual pakaian, rokok elektrik, sepatu, aksesori, hingga menjadi kuli pasir. Bahkan sempat ditipu oleh vendor pakaian.

“Saya tidak malu bekerja apa pun demi kehidupan keluarga. Inspirasi dan kekuatan terbesar saya adalah ibu. Dia masih bisa tersenyum bahagia, meskipun saat itu kami makan nasi dengan garam dari hasil penjualan kasur.

Dulu, keluarga kami direndahkan. Oleh karena itu, saya bertekad mengubah tertawaan dan cemohan menjadi tepukan tangan. Sekarang sudah terbukti, sebuah kehidupan berubah lebih baik berkat jualan cendol. Saya pun tidak malu disebut tukang cendol,” jelas anak ketiga dari empat bersaudara ini seraya tersenyum.

Kerendahan hati pria yang senang bergaya kasual ini layak diacungi jempol. Di usia muda, dia telah menjadi kepala dari 639 gerai Radja Cendol yang terbentang dari Sabang sampai Ambon. Kecerdikannya dalam mengolah perasaan dan pikiran yang kalut menjadikan sosoknya selalu berusaha mencari solusi. Belajar mengatasi berbagai keadaan, mengendalikan diri, belajar, bereksplorasi, dan belajar mengenali selera orang lain.

 

IMG_4898

CENDOL, PILIHAN SARAT MAKNA

Danu sendiri tertarik mengeluti bisnis yang tidak musiman dan mengangkat kuliner asli Indonesia. Setelah meriset minuman atau makanan tradisional di Tanah Air lewat internet, ternyata cendol mewakili Indonesia sebagai 50 minuman terlezat di dunia versi asian go. Selain cendol, ada pula es kelapa di dalam daftar tersebut.

Kemudian dia mulai menggali ide modifikasi rasa dengan mengganti santan ke susu full cream berkalsium tinggi. Perubahan ini bukan sekadar pencitraan, agar dibilang minuman modern, tetapi ada misi yang ingin dicapai.

“Indonesia adalah negara dengan tingkat konsumsi susu paling rendah di Asean, yaitu hanya 12 liter per kapita/tahun. Sementara, negara tetangga, seperti Malaysia sudah 25 liter, Singapura 50 liter lebih, bahkan Amerika Serikat mencapai nominal ratusan liter.

Saya memang anak muda yang belum bisa berbuat apa-apa untuk negeri ini, tetapi sebagai pelopor cendol susu dan topping pertama di Indonesia, ini merupakan langkah kecil untuk mengajak masyarakat gemar minum susu. Bisa dilihat, sekarang banyak gerai cendol susu lain bermunculan,” jelasnya.

Untuk mendapatkan resep terbaik, pria yang hobi traveling ke Indonesia ini mempelajari sendiri berbagai rasa cendol selama tiga bulan. Dia melakukan perjalanan ke lima kota di Pantura dan Lampung guna mencicipi keunggulan rasa dari setiap penjaja cendol yang disinggahinya.

Ketika memilih susu, lebih dari 15 merek susu dicobanya, hingga sakit perut. “Berbekal keinginan belajar saya yang besar, dulu saya sempat idealis ingin membuat cendol buatan sendiri. Ternyata gagal. Jadi, saya sadar kemampuan dan menyerahkan kepada ahlinya,” jelas pria kelahiran Tasikmalaya 20 Agustus 1987. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Oktober 2015

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here