Shinta Dhanuwardoyo: Terpesona Batik

Sejak remaja dunia batik sudah lama digemari Shinta Dhanuwardoyo. Jauh sebelum riuhnya masyarakat Indonesia kembali menyukai batik beberapa tahun lalu.

Kini dia mempunyai obsesi suatu hari nanti sang ratu talk show Oprah Winfrey akan memakai batik Indonesia. Hal ini adalah salah satu yang dia lakukan, agar batik Tanah Air dapat dikenal luas ke seluruh dunia.

Shinta beruntung, karena sejak kecil dia sudah berada dalam lingkungan keluarga yang mencintai batik.

“Busana dan kain batik memang menyejukkan kalau dipakai ke berbagai aktivitas. Waktu batik belum menjadi trend seperti sekarang, banyak orang heran  ketika saya begitu menyukainya dan dibilang aneh.

Kalau saya blusukan mencari dan membeli batik tua, seringkali penjualnya bingung ada anak muda menyukai batik,” jelas Shinta saat ditemui Women’s Obsession.

Hingga kini dia telah mempunyai lebih dari 100 lembar kain yang disimpan di dua lemari di rumahnya. Koleksinya sebagian memang dia beli sendiri, namun ada yang  diberi nenek dan mertuanya.

“Setelah saya mengumpulkan batik, perlahan saya mulai mengenali berbagai motif batik dan filosofinya. Saya paham dengan motif batik yang dipakai seseorang.

Ada yang memang khusus digunakan untuk kalangan keraton, upacara pernikahan, mitoni atau upacara kehamilan tujuh bulan, midodareni atau persiapan pernikahan, dan lainnya,” ungkapnya dengan nada bersemangat.

IMG_4687

APRESIASI BATIK 

Kecintaan Shinta pada batik sebetulnya juga terletak pada proses pembuatan batik itu sendiri. Proses terciptanya selembar kain batik terbilang sulit dan membutuhkan kesabaran tersendiri.

Bayangkan untuk menyelesaikan selembar kain harus dibuat pola terlebih dahulu, lalu di beri malam dengan canting, diwarnai, lalu masuk ke tahap pelorotan warna (pencairan lilin), hingga menjadi selembar batik. Prosesnya panjang dan rumit.

 “Bagi saya batik merupakan karya seni yang tak kalah indahnya dengan kreasi seni lainnya. Saya begitu menghargainya sebagai suatu karya seni yang tinggi. Sayangnya, masih ada ketimpangan dalam soal apresiasi.

Misalnya, batik tulis tangan halus hanya dihargai Rp20 juta dan malah dikatakan mahal. Padahal, dibandingkan lukisan, harganya malah bisa  mencapai ratusan juta,  tidak ada yang mengeluh,” ungkap founder bubu.com panjang lebar.

Sekarang ini, Shinta ikut prihati melihat kian berkurangnya anak-anak muda yang tertarik membatik. Kemajuan modernisasi yang menyerbu ke pelosok-pelosok daerah, membuat   kegiatan membatik tidak menjadi hal menjanjikan. Banyak dari mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau mal.

Dia menambahkan, “Padahal membatik itu memerlukan keahlian yang rumit dan kesabaran menggunakan canting. Bayangkan menggambar dengan pulpen dan kertas saja sudah sulit, apalagi lewat kain dan canting.“ Aryani Indrastati | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2015

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here