Tradisi Unik Negeri Tiongkok

Tak banyak bangsa yang mampu mempertahankan tradisi dan budaya yang sudah berlangsung ribuan tahun. Tiongkok adalah salah satunya. Berikut ini tradisi-tradisi unik dari negeri Tirai Bambu.

Pasar Jodoh Shanghai Market, China3

‘Pasar Jodoh’ di Taman Shanghai
Urusan jodoh kadang memusingkan bagi mereka yang belum bertemu teman hidupnya. Untuk itu, sebagian masyarakat Cina memilih ‘menjemput bola’ dengan berburu soulmate di pasar jodoh.

Setiap hari Sabtu dan Minggu siang hingga pukul lima sore, masyarakat memenuhi taman rakyat di Shanghai. Kebanyakan pengunjung adalah para orang tua yang anaknya belum menikah. Tujuannya untuk bergabung dalam pasar jodoh yang diadakan di sana.

Pada dinding taman ini, ratusan kertas berisi data diri dan pesan digantung oleh para orang tua. Di kertas tersebut ditulis hal-hal yang menggambarkan diri sang pencari jodoh, termasuk shio maupun zodiak ikut dituliskan.

suku mosuo - Copy web

Suku Mosuo Penganut Poliandri
Sebuah daerah terpencil di perbatasan Cina dan Tibet, tinggal sekelompok suku Mosu penganut budaya matrilineal atau garis kekerabatan ibu seperti di Sumatera Barat. Di sini peran wanita sangat sentral, sebagai kepala rumah tangga yang mengatur segala urusan keluarga. Berbeda dengan masyarakat Minang, suku Mosuo adalah pelaku poliandri legal dan sah–sudah dipertahankan ribuan tahun.

Perempuan Mosuo masih memegang tradisi turun temurun, termasuk dalam hal perkawinan. Mereka mempraktikkan pernikahan axia marriage atau perkawinan bebas tanpa ikatan. Mereka tidak tinggal serumah, melainkan tetap di rumah masing-masing, atau di rumah ibu mereka sepanjang hayat. Para wanita menyediakan kamar khusus, agar sang kekasih bisa berkunjung setiap saat. Kunjungan rahasia ini dilakukan saat malam hari dan harus meninggalkan rumah sang kekasih di pagi buta. Jika pihak wanita mulai bosan dan tidak ingin melanjutkan hubungan, dia akan menutup pintu atau jendela kamar. Jika dari hubungan menghasilkan anak, maka posisi anak menjadi milik keluarga ibu dan mewarisi nama keluarga ibu.

Tradisi Pembersihan Mata
Ini adalah tradisi di Cina daratan yang sudah nyaris punah. Bola mata dibersihkan bukan dengan air apalagi cairan pembersih higienis, melainkan menggunakan pisau tajam untuk membersihkan bola mata dan kelopak mata.

Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan harus oleh orang terlatih. Oleh sebab itu, ada profesi khusus pembersih bola mata yang biasanya dirangkap oleh tukang cukur pinggir jalan. Tarif jasanya sekitar lima yuan.

Menurut pepatah Sichuan kuno, membersihkan bola mata dapat membuat keindahan hidup lebih terlihat. Meskipun, sudah berlangsung ribuan tahun, tradisi ini masih bertahan di beberapa daerah di Cina.

Gembok Cinta ala Cina
Tradisi mengaitkan sepasang gembok sebagai simbol ikatan cinta abadi sepasang kekasih, bisa ditemukan di beberapa negara. Misalnya, di pagar jembatan Ponte Milvio, Roma, Italia, lalu membuang kuncinya ke sungai Tiber. Beberapa jembatan di Naples, Milan, Florence, dan Venice juga dipadati gembok cinta.

Begitu pula pagar jembatan Hohenzollernbruecke di Cologne, Jerman, atau pohon gembok cinta di sepanjang jembatan Vodootvodny Canal di Rusia. Indonesia tak mau ketinggalan, lokasinya di Taman Balai Kota Bandung dan di Dermaga Ancol, Jakarta.

Lantas negara mana yang lebih dulu memulai tradisi ini? Sejumlah kalangan menyebut Cina adalah pelopornya. Jauh sebelum negara lain memulai, di sekitar Gunung Huangshan sudah ada gembok cinta. Menurut legenda, zaman dahulu ada sepasang kekasih yang menjalin cinta terlarang dan ditentang oleh keluarga. Akhirnya, mereka memilih kabur dan mengakhiri hidup dengan terjun sambil berpegangan tangan dari puncak tebing ke dasar lembah Gunung Huangshan.

Sejak itu, banyak gembok menutupi pagar dan setiap tiang logam di sekitar gunung ini. Bagaimana jika ternyata putus hubungan? Konon, mereka harus menemukan kunci yang telah dibuang ke lembah untuk membuka gembok tertempel di pagar. Ini harus dilakukan demi melepaskan jiwa dari mantan kekasih.

(Andi Nursaiful/Dari Berbagai Sumber. Foto: Istimewa)

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here