Pentingnya jaga Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut

drg. Djamilah Tohirah Tabusalla, Sp. Prosth, Subspesialis CPDI (K), MPH

 

Masalah kesehatan gigi geligi dan rongga mulut berhubungan erat dengan kualitas hidup seseorang. Kualitas hidup yang dimaksud adalah respons individu terhadap kehidupannya sehari-hari, terutama dari segi penampilan (estetika), terhadap fungsi fisik, psikis, dan sosial.

 

Sebagian besar kaum perempuan usia remaja hingga dewasa lebih kritis terhadap penampilannya secara keseluruhan. Mereka ingin mempunyai gigi geligi dengan susunan yang rapi pada lengkung rahang, mukosa mulut, dan gusi yang  sehat secara keseluruhan. Selain itu, senyum yang sehat memberikan dampak positif dari segi fisik dan psikologis serta karena terlihat lebih cantik dan menambah rasa percaya diri.

 

Rongga mulut adalah tempat berkumpulnya segala macam virus, bakteri maupun jamur. Beberapa di antaranya merupakan flora normal dan umumnya tidak berbahaya jika hanya dalam jumlah kecil. Namun pola makan yang tinggi gula menciptakan kondisi ketika bakteri penghasil asam dapat berkembang biak. Asam inilah yang melarutkan email dan menyebabkan gigi berlubang. Penumpukan bakteri pada daerah gusi yang menempel pada gigi disebut plak. Apabila dibiarkan terlalu lama, plak akan mengeras menjadi karang gigi yang dapat menimbulkan peradangan pada gusi (gingivitis).

 

BACA JUGA:

Manfaat Bermain di Ruang Terbuka Bagi Anak

Eksploitasi Seksual Komersial Anak Secara Daring Berkembang Kian Aneka Ragam

 

Meningkatnya peradangan pada gusi dapat menciptakan kantong yang berisi nanah, dan terjadinya peradangan gusi stadium lanjut (periodontitis). Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap gingivitis dan periodontitis, di antaranya kebiasaan merokok, kesalahan arah ketika sikat gigi, dan kebiasaan mengudap makanan maupun minuman manis.

 

Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi produksi air liur, infeksi tertentu seperti HIV, perubahan hormonal pada perempuan, dan reflux asam juga menjadi faktor penyebab lainnya. Perlu dicermati bahwa karang gigi yang dibiarkan di dalam rongga mulut, selain menyebabkan timbulnya bau mulut dapat juga mempengaruhi penampilan seseorang, terutama jika timbul pada gigi anterior.

 

Dokter gigi sering mendapati kasus gigi berlubang yang sudah sangat parah dan telah mencapai saluran akar gigi. Dari hasil anamnesa, awalnya pasien tidak mengetahui adanya gigi yang berlubang, karena sudah lama tidak kontrol ke dokter gigi. Masalah mulai timbul ketika gigi sudah mulai terasa sakit dan telah terjadi kerusakan pada gigi anterior, yang berakibat terganggunya penampilan (estetika).

 

drg. Djamilah Tohirah Tabusalla, Sp. Prosth, Subspesialis CPDI (K), MPH

 

Sakit gigi biasanya timbul akibat karies gigi sudah dekat dengan saluran akar (pulpa gigi) yang berisi pembuluh darah dan saraf. Ketika saraf pada pulpa gigi terinfeksi bakteri, kondisi ini akan menimbulkan nyeri hebat, sehingga harus segera dilakukan perawatan saluran akar, agar gigi tetap bertahan pada rongga mulut dalam kondisi sehat. Jika pasien abai terhadap masalah ini, gigi tidak dapat dipertahankan dan harus dicabut.

 

Perlu diketahui bahwa bakteri yang berasal dari gigi berlubang dan radang gusi merupakan sumber (fokal) infeksi yang dapat menimbulkan masalah pada organ tubuh lainnya. Bakteri dapat masuk ke aliran sirkulasi darah dan berpotensi menyerang katup jantung maupun otot jantung. Oleh karena itu, masalah kesehatan gigi dan rongga mulut sangat penting untuk kualitas hidup setiap individu.

 

Pada kasus kerusakan gigi parah dan harus dicabut, diperlukan pergantian gigi dengan gigi tiruan segera, agar dapat mengembalikan fungsi pengunyahan, fungsi estetika, maupun fungsi bicara. Apabila kehilangan gigi geligi dibiarkan terlalu lama tanpa menggunakan gigi tiruan akan menyebabkan pergeseran gigi lainnya, sehingga posisi gigi pada rahang atas tidak harmonis terhadap gigi pada rahang bawah. Fungsi pengunyahan pun tidak optimal dan dapat pula terjadi gangguan bicara jika gigi depan ompong.

 

BACA JUGA:

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Anak

Kembalikan Pola Makan Sehat Usai Lebaran

 

Berbagai jenis gigi tiruan dapat menjadi pilihan untuk menggantikan gigi geligi yang hilang, antara lain gigi tiruan lepas, gigi tiruan cekat atau dental implant. Keberhasilan perawatan dengan menggunakan gigi tiruan tergantung dari kerja sama yang baik antara dokter gigi dan pasien. Motivasi dan komunikasi pasien terhadap penggunaan gigi tiruan sangat menentukan hasil akhir dari perawatan, agar fungsi pengunyahan, fungsi bicara dan fungsi estetika dapat tercapai sesuai harapan. 

 

Pada perempuan yang kerap mengalami perubahan hormon berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan rongga mulut. Saat hamil peningkatan hormon dapat mempengaruhi jumlah produksi air liur. Sering muntah pada pagi hari dapat menyebabkan kerusakan gigi. Perempuan hamil boleh melakukan perawatan gigi, namun kondisi tersebut perlu disampaikan kepada dokter gigi. Sementara, pada perempuan menopause memiliki jumlah hormon estrogen lebih rendah, sehingga meningkatkan risiko penyakit gusi dan bahkan ada kemungkinan mengalami kondisi yang disebut sindrom mulut terbakar (Burning Mouth Syndrome).