“Living Lines”: Ruang Dialog Seni Kontemporer di J+ Art Awards x Matraman Art Space

Ruang seni independen kembali menegaskan perannya sebagai denyut ekosistem kreatif ibu kota. Sepanjang 12 Februari hingga 12 Maret 2026, kolaborasi antara Connected Art Platform dan Matraman Art Space menghadirkan pameran J+ Art Awards x Matraman Art Space, sebuah perjumpaan ide, eksplorasi, dan jejaring global yang bertajuk “Living Lines”.

Pameran ini menjadi rangkaian pembuka menuju Open Call J+ Art Awards 2026, sekaligus menampilkan karya para seniman terpilih dari Open Call 2025. Di ruang yang tumbuh bersama komunitas dan praktik eksperimental ini, seni tidak hanya dipajang, tetapi diajak berdialog dengan kehidupan sehari-hari.

Berada di kawasan Matraman yang memadukan tradisi dan dinamika urban Jakarta, ruang ini menjadi simpul pertemuan antara publik, seniman berkembang, dan ekosistem kreatif yang terus bergerak. Sejak awal berdiri, Matraman Art Space dikenal sebagai ruang alternatif yang memberi ruang bagi eksplorasi dan diskursus kritis, terutama bagi generasi perupa yang tengah membangun bahasa visualnya sendiri.

Tema “Living Lines” merefleksikan garis-garis kehidupan—baik yang bersumber dari pengalaman personal, tradisi budaya, hingga kegelisahan ekologis. Ashlesha Barde (India) menjembatani estetika tradisional Bali dengan praktik digital kontemporer, menghadirkan simbol-simbol kosmologis yang kontemplatif. Christanto Dermawan (Indonesia) melalui seri “ay_am” menggunakan fotografi sebagai medium refleksi identitas, membingkai fragmen diri lewat warna dan persepsi.

Mif Yasmin ‘Azizah As Sakini (Indonesia) lewat karya “Vyasti” mengangkat keberagaman dan koeksistensi dalam relasi ekologis dan antarmanusia, sementara Mohammad Jakfar (Indonesia) melalui “Mendekati Surga” dan “Seringan Debu” mengolah keheningan simbolik untuk memotret keseimbangan antara hasrat dan kepasrahan. Precilia Meirisa (Indonesia) menghadirkan lanskap malam yang meditatif dalam “Evening Stroll” dan “Midnight Blue”, tempat ingatan dan suasana melebur dalam abstraksi. Dari Spanyol, Yoso menampilkan “Newborn White on Blue”, refleksi tentang kelahiran dan individualitas di tengah ketidakpastian hidup.

Tahun ini, J+ Art Awards mencatat hampir 500 peserta dari 42 negara, memperlihatkan resonansi global yang semakin luas. Proses kurasi dipimpin oleh Mona Liem, pendiri Connected Art Platform, bersama Tobias Brunner (Zurich), Abby Hermosilla (MoMA New York), serta Yessiow—pendiri Tangi Street Art Festivals Bali yang masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024. Kehadiran juri lintas negara ini membuka peluang dialog antara praktik seni Indonesia dan jejaring internasional.

Sebagai inisiatif talent connection, J+ Art Awards tidak hanya memberi panggung, tetapi juga membangun jembatan. Kolaborasi dengan Matraman Art Space menjadi langkah konkret memperkuat perjumpaan antara suara kreatif dengan ruang komunitas yang hidup dan relevan dengan keseharian publik.

Melalui pameran ini, seni kembali menegaskan dirinya sebagai medium refleksi zaman—ruang untuk bertanya, meresapi, dan merayakan keberagaman gagasan. Di tengah hiruk pikuk kota, “Living Lines” mengajak pengunjung menelusuri garis-garis pengalaman manusia yang terus bergerak, berkelindan, dan menemukan maknanya sendiri.