PINTU Dorong Hasil Karya Fashion Indonesia Prancis Saling Menginspirasi dan Memperkaya

 

Talenta di industri fashion membutuhkan lebih dari sekadar panggung. Mereka memerlukan proses pembelajaran, pendampingan, jejaring, serta kesempatan untuk terus berkembang secara berkelanjutan.

 

Memasuki tahun kelima, PINTU kini menjalankan tiga program utama, yaitu PINTU Incubator, PINTU Accelerator, dan PINTU Residency. Ketiga program ini dirancang untuk mendampingi pelaku industri fashion pada berbagai tahap perkembangan, sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan kolaborasi antara Indonesia dan Prancis.

 

Kerjasama Konsisten Talenta Muda Buka Peluang Baru

“Karya-karya yang akan kita saksikan malam ini merupakan hasil dari proses panjang tersebut. Di balik setiap koleksi, terdapat perjalanan eksplorasi, pembelajaran, dialog kreatif, serta pendampingan yang melibatkan para desainer, mentor, institusi, dan berbagai pihak dari kedua negara,” ujar Presiden JF3 Soegianto Nagaria.

 

Tahun ini juga menjadi tonggak penting dengan diresmikannya Yayasan PINTU Indonesia. Kehadiran yayasan ini menjadi fondasi kelembagaan yang lebih kuat untuk memastikan keberlanjutan program, memperluas dampaknya, serta mempererat kerja sama Indonesia–Prancis di bidang fashion dan industri kreatif.

 

Ia melanjutkan, “Bagi kami, panggung malam ini bukan sekadar presentasi koleksi. Ini adalah bukti bahwa kolaborasi yang dibangun secara konsisten mampu melahirkan karya-karya berkualitas, membuka peluang baru bagi talenta muda, serta mempertemukan dua ekosistem fashion dalam sebuah proses yang saling menginspirasi dan memperkaya.”

 

Sementara itu, Deputy Cultural Counselor of The French Embassy in Indonesia and Deputy Director of Institut Francais d’Indonesie (IFI) Vincent Degoul menambahkan, memasuki tahun ke-5 kolaborasi telah menyatukan 150 profesional desainer, tenaga pendidik, peneliti, konsultan, jurnalis, pelajar, dan pelajar-pelajar umum dari kedua negara.

 

“Mereka berkomunikasi tentang ide-ide dan mendorong kolaborasi baru. Tahun lalu di Borobudur, kedua negara menegaskan kembali kuatnya komitmen bersama terhadap budaya dan warisan, dan PINTU menjadi salah satu program yang secara khusus disebut dalam deklarasi tersebut. Komitmen ini kembali ditegaskan pada April lalu ketika para Menteri Kebudayaan Prancis dan Indonesia bertemu di Paris. Menekankan pentingnya industri budaya dan kreatif dalam hubungan bilateral kedua negara. Prioritas ini kini menjadi bagian dari peta jalan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis,” tambah Vincent.

 

Selama empat tahun terakhir, para peraih penghargaan PINTU mendapat akses ke berbagai institusi mode paling bergengsi di Prancis, seperti Palais Galliera, Musée des Arts Décoratifs, Galerie Dior, Musée Yves Saint Laurent, Institut Français de la Mode, dan La Caserne. Mereka juga bertemu dengan para profesional dari Le Bon Marché dan Printemps Haussmann, memperoleh wawasan penting mengenai lanskap retail dan fashion global.

 

Koleksi Unik Para Desainer Prancis Pada malam ini ditampilkan karya empat desainer Prancis Louise Marcaud, Etienne Deroeux, Fengyuan Dai, dan Rohan Mirza. Bersama para duo desainer Prancis–Indonesia yang mengikuti program residensi. Sorotan utama PINTU tahun ini adalah program French–Indonesian Co-Creation Residency, yang mempertemukan Michael Nana dan Beatrice Angelica dengan koleksi Garuda, serta Lisa Ryan dan Gabriel Marcella dengan koleksi Au Large.

 

Louise Marcaud sendiri menggabungkan praktik upcycling kelas tinggi dengan keterampilan kriya kontemporer. Tahun ini ia kembali ke Indonesia dan menghadirkan koleksi musim panas yang terinspirasi dari tekstil lurik tradisional. Hasil eksplorasi dan pendalaman kreatifnya setelah berpartisipasi dalam JF3 dan PINTU Cultural Visit tahun lalu.

 

Setelah menimba pengalaman di sejumlah rumah mode ternama seperti Chanel dan Jean Paul Gaultier, ia mendirikan label dengan namanya sendiri pada tahun 2020. Seluruh koleksinya diproduksi dalam jumlah terbatas dengan mengutamakan produksi lokal serta penggunaan kain-kain dormant (deadstock) apabila memungkinkan.

 

Etienne Deroeux yang kerap menghubungkan budaya urban dengan keahlian artisan, malam ini mempersembahkan koleksi eksklusif hasil kolaborasi dengan brand Indonesia DENIMITUP yang didirikan oleh Vincent Michael. Mempersembahkan 19 look bertajuk "FAS DELMAN" yang berkolaborasi bersama TAREET. FAS DELMAN mengeksplorasi dialog budaya antara Indonesia dan Senegal melalui koleksi streetwear kontemporer. Berakar pada warisan bersama kedua negara, kolaborasi ini menafsirkan ulang elemen-elemen busana tradisional menjadi siluet hibrida yang menjembatani keahlian kerajinan, identitas, dan desain modern.

 

Elemen kunci dari koleksi ini adalah sentuhan (the twist) pada pakaian yang mencerminkan cara djellaba menciptakan volume saat tubuh bergerak. Tujuannya adalah untuk menerjemahkan rasa volume yang mengalir ini ke dalam potongan pakaian jalanan (streetwear) sehari-hari yang lebih kontemporer.

 

Lalu, Fengyuan Dai pendiri studio 30%70, mengeksplorasi tailoring inovatif dan pengaruh lintas budaya. Melalui namanya, 30%70 menyampaikan gagasan bahwa keseimbangan tidak selalu harus simetris. Justru dalam ketegangan yang halus antara berbagai hal yang berlawanan itulah harmoni tercipta—antara Timur dan Barat, warisan budaya dan modernitas, elegansi dan kenyamanan, serta craftsmanship dan inovasi.

 

Setiap koleksi 30%70 menampilkan pendekatan yang sensitif terhadap busana. Siluet yang timeless dipadukan dengan penggunaan material alami, tekstil daur ulang, eksplorasi teknik artisan, serta detail yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Palet warna yang lembut, tekstur yang khas, dan volume busana yang nyaman menciptakan dunia yang terasa sekaligus kontemporer dan puitis.

 

Selain itu tampil pula karya Rohan Mirza, dengan pendekatan segar dan eksperimental terhadap fashion kontemporer, akan menampilkan koleksi bertajuk Stone Age. Dengan nama label ROHAN MIRZA STUDIO yang mengeksplorasi teknologi, material, dan teknik fabrikasi eksperimental seperti cetak 3D dan silikon. Mengeksplorasi peran emosi di era pesona digital: di antara mitos-mitos populer di internet dan warisan antargenerasi.

 

Koleksi ini berakar pada Paris yang memiliki dua wajah: satu yang menghisap mimpi sekaligus mewujudkannya. Siluet-siluetnya berkelana di dunia di mana para malaikat tidak jatuh, melainkan membusuk akibat keseriusan yang dipaksakan kepada mereka. Tujuannya adalah untuk bermain-main dengan kode-kode eksklusif yang sering melekat pada dunia mode, guna memberikan penghormatan kepada semua hantu dan kode visual dalam ingatan kolektif populer kita.

 

Kolaborasi Inovatif Desainer Indonesia Prancis

Tak kalah seru disimak adalah kolaborasi Mickael Nana dan Beatrice Angelica yang mempersembahkan Koleksi ‘GARUDA’ di BRI JF3 Fashion Festival. GARUDA adalah koleksi kerjasama yang dikembangkan oleh desainer Indonesia. Beatrice Angelica, pendiri NOEN, dan desainer Perancis Michael "Marlon" Nana, pendiri MARLON NANA. Dibuat sebagai bagian dari PINTU Residency Program, sebuah inisiatif dari lembaga Prancis di Indonesia dan merek fesyen Lakon Indonesia karya Thresia Mareta, proyek ini mencerminkan dialog antara fesyen Indonesia dan Prancis melalui keahlian, gaya, dan pertukaran budaya.

 

Mengeksplorasi lebih dalam perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat. Alih-alih budaya yang bertentangan, koleksi ini menunjukkan bagaimana tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya, menciptakan lemari pakaian kontemporer, berakar pada rasa hormat, pertukaran, dan inovasi. Terinspirasi oleh lambang nasional Indonesia, Garuda melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keterbukaan sekaligus mewujudkan identitas kreatif bersama. Melalui koleksi ini, Mickael dan Beatrice mewujudkan perpaduan ini dengan merayakan motto Garuda "Bhinneka Tunggal Ika", "Persatuan dalam Keberagaman".

 

Sementara, kolaborasi perancang busana Prancis Lisa Rayar dan desainer Indonesia Gabriel Marcella mengambil tema AU LARGE, mengeksplorasi budaya tekstil Asia melalui penelitian bahan, siluet pahatan, dan mode kontemporer. Gabriel Marcella adalah direktur kreatif Soedisoei dan perancang busana pria yang berspesialisasi dalam Wastra modern yang berbasis di Semarang.

 

 

Salah satu inovasi utama koleksi ini adalah penciptaan motif batik orisinal, yang dikembangkan secara khusus untuk proyek ini dengan menggabungkan motif kotak-kotak/sarung yang terinspirasi tartan Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis yang ikonik melalui teknik sablon batik yang inovatif. Pola baru ini mencerminkan perpaduan dua identitas tekstil sekaligus mempertahankan keaslian keahlian kerajinan batik.

 

Dikembangkan selama program residensi PINTU Incubator di Indonesia, koleksi ini merupakan hasil dari dialog antarbudaya antara dua desainer yang dipertemukan oleh minat yang sama terhadap keahlian kerajinan tekstil, pertukaran budaya, dan mode kontemporer. Alih-alih menyatukan dua budaya yang berjauhan, AU LARGE justru mengungkap bahasa maritim bersama terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan mendalam dengan laut. (Elly | Foto: Dok. JF3 Festival)