ALLPrint Indonesia 2026: Ketika Kertas Menolak Mati di Era Digital

Digitalisasi ternyata tidak membunuh industri percetakan, namun mengubah wajahnya. Dari mesin besar dan produksi ribuan eksemplar, industri ini bergerak menuju print on demand, personalisasi, digital textile printing, kemasan yang lebih berkelanjutan, hingga karya fotografi yang kembali membutuhkan kertas untuk menjadi benda yang bisa disentuh, dipamerkan, dan diwariskan. Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada layar, kertas justru menemukan fungsi-fungsi baru yang sebelumnya tidak banyak dibayangkan.

 

Smartphone membuat kamera, buku, katalog, undangan, hingga dokumen berpindah ke ruang digital. Namun, kebutuhan manusia terhadap benda fisik ternyata tidak ikut hilang. Buku masih dicetak, produk tetap membutuhkan kemasan, label tetap diperlukan, kain membutuhkan motif, sementara karya fotografi dan seni membutuhkan medium fisik, agar dapat hadir sebagai karya yang bisa dilihat secara langsung. Di titik inilah industri printing menunjukkan paradoksnya: semakin digital kehidupan manusia, semakin kreatif pula industri ini mencari alasan untuk tetap mencetak.

 

Dari 3000 Buku Menjadi 50 Eksemplar

Perubahan paling nyata terlihat pada industri buku. Jika dahulu mencetak buku identik dengan produksi ribuan eksemplar, kini teknologi print on demand memungkinkan penerbit atau penulis mencetak dalam jumlah jauh lebih kecil, tanpa harus menanggung risiko stok yang menumpuk. “Kalau dulu cetak buku itu minimal 3000. Sekarang bisa menjadi 50 dengan print on demand,” ujar Ahmad Mughira Nurhani, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI).

 

Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan jumlah cetakan, tetapi mengubah model bisnis. Penulis independen, penerbit kecil, komunitas, hingga pelaku UMKM dapat mencetak sesuai kebutuhan pasar. Buku tidak lagi harus diproduksi dalam jumlah besar sebelum diketahui apakah akan terserap konsumen. Teknologi digital membuat produksi menjadi lebih fleksibel, personal, dan responsif.

 

Perubahan yang sama juga terjadi pada kemasan. Ledakan e-commerce memang membuat transaksi berlangsung di ruang digital, tetapi setiap barang yang dikirim tetap membutuhkan kardus, label, stiker, kartu ucapan, hingga berbagai elemen visual yang menjadi bagian dari identitas sebuah merek. Dunia digital pada akhirnya justru menciptakan kebutuhan fisik baru yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui layar.

 

Ketika Mesin Bukan Lagi Modal Pertama

Perubahan teknologi juga membuat mesin printing tidak lagi sekadar alat untuk menggandakan gambar atau tulisan. Menurut CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, yang semakin penting justru adalah kreativitas dan desain yang berada di balik teknologi tersebut. “Sebenarnya yang dijual itu apa? Ya, desainnya. Jadi kembali lagi, patokannya kita harus masuk ke bidang kreatif,” katanya.

 

Teknologi bahkan memungkinkan sebuah karya seni direproduksi dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Sebuah lukisan yang semula hadir di atas kanvas dapat direkam secara digital, kemudian dicetak kembali dengan teknologi yang mampu menghasilkan detail, warna, bahkan efek permukaan tertentu. Hasil reproduksi dapat dibuat sedemikian presisi, hingga secara visual terlihat lebih sempurna daripada karya aslinya.

 

 

Di sinilah teknologi printing menghadirkan pertanyaan menarik tentang makna keaslian. Daud mengibaratkannya dengan perbedaan antara batik tulis dan batik cetak. Batik cetak dapat menghasilkan motif yang sangat sempurna dan konsisten, sementara batik tulis justru menyimpan ketidakteraturan kecil yang menjadi karakter tangan manusia. Teknologi dapat mengejar kesempurnaan, tetapi manusia sering kali dikenali justru melalui ketidaksempurnaannya.

 

Analogi serupa muncul ketika teknologi kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan suara dan musik yang sangat sempurna. “Kalau terlalu sempurna, jangan-jangan AI,” begitu kira-kira logikanya. Suara manusia memiliki warna, karakter, tarikan napas, bahkan sedikit kesalahan yang membuatnya terasa hidup. Dalam konteks printing, teknologi dapat menghasilkan reproduksi yang nyaris sempurna, tetapi nilai sebuah karya tetap dapat terletak pada cerita, kreativitas, dan jejak manusia yang melahirkannya.

 

Daud menyatakan, “Teknologi printing juga semakin mampu menghasilkan efek yang dapat dirasakan secara fisik. Tinta dapat dibuat timbul sehingga permukaannya bisa disentuh dan memberikan sensasi seperti melihat sebuah lukisan secara langsung. Mesin dengan teknologi tersebut tersedia dari berbagai negara, termasuk Jepang, Eropa dan China, dengan pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan investasi pengguna.”

 

Ketika Foto Digital Kembali

Menjadi Benda

Paradoks yang sama terlihat dalam fotografi. Hampir semua orang kini memiliki kamera di dalam telepon pintar. Foto dapat dibuat, diedit, disimpan dan dibagikan dalam hitungan detik. Namun, ketika fotografi masuk ke ruang seni, foto digital kembali membutuhkan kertas untuk memperoleh kehidupan fisiknya. “Ternyata di dunia fotografi tetap saja percetakan diperlukan. Jadi, tidak hanya dalam bentuk digital saja,” kata Iman Santosa, Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.

 

Menurut Iman, teknologi printing fotografi saat ini mampu menghasilkan kualitas warna dengan daya tahan yang sangat panjang. Dengan penggunaan kertas khusus, bahkan terdapat hasil cetak yang diklaim dapat mempertahankan kualitas hingga sekitar 100 tahun. Artinya, sebuah foto tidak lagi sekadar file yang tersimpan di telepon atau cloud, tetapi dapat menjadi artefak yang memiliki usia dan ruang penyimpanan sendiri.

 

Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana mencetak, tetapi bagaimana karya tersebut dikelola setelah dicetak. Karya fotografi yang telah dipamerkan membutuhkan penyimpanan, dokumentasi, distribusi, hingga promosi. Karena itu, pengembangan ekosistem fotografi tidak berhenti pada produksi karya, tetapi juga mencakup bagaimana karya tersebut dapat memiliki perjalanan setelah keluar dari ruang pamer.

 

Kehadiran kamera smartphone yang semakin canggih juga tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan tersebut. Justru ketika kualitas gambar digital semakin tinggi, tuntutan terhadap kualitas reproduksi fisiknya ikut meningkat. Foto yang sebelumnya hanya hidup di layar kini kembali dicari dalam bentuk yang dapat disentuh, dipajang dan diwariskan.

 

 

Kertas, Industri dan Tantangan Hijau

Di luar kebutuhan kreatif, industri kertas dan printing juga memiliki dimensi ekonomi yang besar. Putu Juli Ardika, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, menyebut industri kertas nasional memiliki prospek yang baik, antara lain karena meningkatnya kebutuhan kemasan dari sektor makanan dan minuman serta perdagangan elektronik.

 

Industri kertas juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian nasional, dengan sekitar 280 ribu tenaga kerja langsung dan sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung. Ekspor pulp disebut mencapai sekitar US$3,6 miliar, sementara produk kertas sekitar US$4,5 miliar. Pergeseran dari material plastik menuju material berbasis kertas juga membuka peluang baru bagi industri, meski pada saat yang sama industri printing masih menghadapi tantangan tingginya kebutuhan produk impor.

 

“Semoga kita bisa bersinergi untuk bersama-sama menguatkan produktivitas industri percetakan nasional, sehingga bisa meningkatkan peluang ekspor,” ujar Putu. Tantangan keberlanjutan menjadi bagian penting dari masa depan industri. Kertas memang sering dipersepsikan lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik, tetapi keberlanjutan tidak berhenti pada pilihan material. Industri juga harus memperhatikan sumber bahan baku, penggunaan energi, tinta, limbah produksi, efisiensi mesin, hingga bagaimana produk akhirnya dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

 

Dengan demikian, masa depan printing bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah mesin mencetak, tetapi juga seberapa efisien dan bertanggung jawab proses tersebut berlangsung. Teknologi akhirnya dituntut bukan hanya menghasilkan kualitas visual, melainkan juga menjawab persoalan lingkungan.

 

ALLPrint dan Wajah Baru Percetakan

Gambaran perubahan tersebut terlihat dalam penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026 yang akan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 7–10 Oktober 2026. Diselenggarakan Krista Exhibitions, pameran ini mempertemukan teknologi digital printing, packaging, textile printing, label, finishing, tinta, kertas, media, hingga perangkat lunak. Sekitar 400 peserta dari lebih dari 10 negara dijadwalkan hadir, termasuk pelaku UMKM, dengan target sekitar 60.000 pengunjung.

 

 

Namun, yang menarik dari ALLPrint bukan sekadar jumlah mesin yang dipamerkan. Pameran ini memperlihatkan bagaimana printing semakin bertaut dengan industri kreatif, fashion, fotografi, perdagangan elektronik dan UMKM. Teknologi menjadi alat, sementara kreativitas menjadi nilai tambah yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan.

 

Pandangan itu sejalan dengan penekanan Cecep Rukendi, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, mengenai pentingnya kekayaan intelektual atau intellectual property. “Saat ini, kalau kita ingin mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar, kita tidak cukup hanya menjual komoditas atau jasa. Kita juga perlu mengembangkan intellectual property atau kekayaan intelektual. Dengan mengembangkan intellectual property, nilai tambah yang dihasilkan dapat menjadi jauh lebih besar,” katanya.

 

Dulu, industri kreatif sering dipandang sebagai pilihan yang belum tentu menjanjikan. Kini situasinya berubah. Kreativitas, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi justru menjadi bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam konteks printing, perubahan itu terlihat ketika sebuah mesin tidak hanya menghasilkan buku atau brosur. Tetapi, membantu menghidupkan desain fashion, memperkuat identitas merek melalui kemasan, mereproduksi karya seni, dan membawa fotografi dari layar kembali ke dinding galeri.

 

Mungkin di situlah paradoks terbesar industri percetakan hari ini. Semakin digital dunia, semakin banyak cara yang ditemukan untuk membuat gagasan kembali menjadi benda nyata. Dari 3000 buku menjadi 50 eksemplar, dari produksi massal menuju print on demand, dari desain di layar menuju motif di kain, hingga dari foto di telepon menuju karya yang dipajang di dinding.

 

Kertas ternyata tidak mati, tapi hanya belajar menemukan alasan baru untuk tetap hidup. Selama manusia masih ingin menyentuh sebuah karya, membungkus sebuah produk, membaca sebuah buku, memajang sebuah foto atau meninggalkan sesuatu yang dapat diwariskan, industri printing akan selalu menemukan ruangnya. Mesin boleh berubah, teknologi bisa bergerak semakin cepat, tetapi kebutuhan manusia untuk membuat gagasan menjadi nyata tampaknya belum selesai. (Elly Simanjuntak | Foto: Dok. Krista Exhibitions)