Turkuaz Restaurant Hadir di Rumah Baru, Hadirkan Tradisi Sarapan Mewah dan Cita Rasa Autentik Turki

Selama ini, kuliner Turki di Indonesia identik dengan kebab dan baklava. Padahal, negara yang mempertemukan budaya Asia dan Eropa ini memiliki kekayaan gastronomi yang jauh lebih luas, termasuk tradisi sarapan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

 

Tradisi tersebut dikenal sebagai kahvalti, sebuah pengalaman bersantap yang bukan sekadar mengisi perut pada pagi hari, melainkan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati waktu bersama keluarga maupun sahabat. Tradisi inilah yang ingin diperkenalkan Sezai Zorlu, chef asal Turki sekaligus pemilik Turkuaz Restaurant, melalui rumah baru restorannya di Jalan Ciranjang No. 40, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 

Restoran yang dikenal dengan sajian autentik Turki ini tidak hanya menawarkan beragam hidangan, tetapi juga mengajak pengunjung memahami filosofi di balik budaya bersantap masyarakat Turki. “Di Indonesia ada budaya pergi ke mal. Di Turki, kami memiliki budaya sarapan dikenal dengan istilah kahvalti keyfi, yang menggambarkan kenikmatan sarapan dalam suasana santai. Terutama pada akhir pekan, sarapan menjadi momen istimewa ketika keluarga dan kerabat berkumpul di sekitar meja makan tanpa dibatasi waktu,” ujar Sezai ketika memperkenalkan pengalaman sarapan khas Turki di Turkuaz Restaurant kepada insan media.

 

Sarapan yang Menjadi Sebuah Perayaan

Berbeda dengan kebiasaan sarapan praktis sebelum beraktivitas, kahvalti menawarkan pengalaman bersantap yang lebih panjang. Meja makan dipenuhi aneka roti, keju, zaitun, sayuran, selai, telur, dan berbagai olahan daging. Hidangan disajikan dalam beragam bentuk dan rasa, sehingga setiap orang dapat menikmati berbagai pilihan secara bersama-sama. Di Turkuaz Restaurant, pengalaman sarapan ini menghadirkan hampir 30 jenis hidangan yang mencerminkan kekayaan kuliner Turki.

 

 

Beberapa sajian yang dikenal dalam tradisi kahvaltı antara lain, borek, pastry gurih dengan berbagai isian; sucuk, sosis berbumbu khas Turki; dan perpaduan tahini, pasta wijen, dan molase yang menghasilkan karakter rasa manis sekaligus gurih. Roti hangat, keju, zaitun, dan aneka pelengkap menjadi bagian dari sajian yang dinikmati secara bertahap. Hidangan dingin dan teh biasanya hadir terlebih dahulu, sebelum tamu beralih ke makanan yang lebih berat.

 

Bagi Sezai, keragaman tersebut bukan sekadar upaya memenuhi meja dengan banyak makanan. “Breakfast itself is an event,” ucap Sezai. Ia memandang sarapan sebagai sebuah acara tersendiri, terutama pada Sabtu dan Minggu. Tamu dapat mengambil makanan, duduk kembali, berbincang, menikmati kopi, dan melanjutkan pengalaman bersantap tanpa terburu-buru.

 

Ia melanjutkan, “Saturday and Sunday breakfast is meant to be shared.” Konsep ini juga menjadi alasan mengapa Turkuaz menyediakan lebih banyak variasi hidangan pada akhir pekan, dibandingkan sarapan praktis pada hari kerja. Pada hari kerja, orang biasanya memiliki waktu terbatas sebelum memulai aktivitas. Sebaliknya, akhir pekan menjadi kesempatan untuk bersantai dan menikmati makanan bersama orang-orang terdekat.

 

Turkish Breakfast Brunch dengan Konsep Serpme

Untuk memberikan pengalaman kahvalti kepada masyarakat Indonesia, Turkuaz Restaurant menghadirkan layanan Turkish Breakfast Brunch setiap hari pukul 08.00–11.30 WIB. Sarapan disajikan menggunakan konsep serpme, yaitu beragam hidangan yang dihamparkan di meja untuk dinikmati bersama. Dengan harga Rp299.000++ per orang, tamu dapat menikmati hampir 30 jenis sajian sarapan khas Turki, mulai dari aneka roti, keju, zaitun, borek, hingga sucuk.

 

 

Pengalaman ini juga dilengkapi pilihan hidangan telur, seperti Menemen, telur yang dimasak bersama tomat dan paprika; Sucuklu Yumurta, telur dengan sosis khas Turki; dan Kavurmali Yumurta, telur dengan olahan daging yang dimasak berbumbu. Tamu juga dapat menikmati berbagai jenis teh khas Turki dan kopi pasir Turki atau Turkish sand coffee, yang dibuat menggunakan teknik pemanasan tradisional dengan pasir panas.

 

Selain sajian utama sarapan, tersedia pula pilihan tambahan seperti Mihlama, hidangan keju leleh khas kawasan Laut Hitam Turki; Pastirma, daging yang diawetkan dan dibumbui; Turkish Simit, roti berbentuk cincin berbalut wijen; serta Anatolian Chicken Porridge, bubur ayam bergaya Anatolia. Ragam minuman yang tersedia mencakup kopi, teh herbal, dan jus segar.

 

Menu Andalan: Dari Anatolian Mezze hingga Sultan Grill Platter

Selain pengalaman sarapan, Turkuaz menghadirkan beragam menu yang memperlihatkan kekayaan gastronomi Turki. Salah satu pilihan pembuka adalah Anatolian Mezze Selection, sajian aneka mezze autentik yang disajikan bersama roti hangat. Terinspirasi dari warisan kuliner Anatolia, hidangan ini mencerminkan tradisi keramahtamahan Turki yang menempatkan makanan sebagai bagian dari kebersamaan.

 

Bagi pencinta daging, Firinda Kuzu Incik menawarkan betis domba yang dimasak perlahan hingga empuk, kemudian disajikan bersama jamur, tomat ceri, bawang bombai kecil, dan nasi berbumbu harum. Pilihan lainnya adalah Sultan Grill Platter, sajian kombinasi Adana kebab, sate ayam, iga domba, dan tenderloin sapi. Dilengkapi salad sumac serta nasi campur, hidangan ini dirancang untuk dinikmati bersama.

 

Sementara itu, Adana Kebab Lamb menghadirkan daging domba cincang berbumbu tradisional yang dipanggang di atas api hingga matang. Sajian ini dilengkapi sayuran panggang, salad sumac, roti lavash, dan nasi. Bagi yang memilih ayam, Sis Kebab Chicken menawarkan potongan ayam berbumbu yang ditusuk dan dipanggang, kemudian disajikan bersama sayuran, salad sumac, roti lavash, dan nasi. (Elly S | Foto: Dok. Istimewa)