Pecinta Kebaya Bordir Manual Mendalami Teknik Seni Bordir di Balik Keindahan Karya Roemah Kebaya Vielga

Keindahan kebaya tidak hanya terletak pada siluet dan motifnya, tetapi juga pada proses panjang yang melibatkan ketekunan, kreativitas, dan keterampilan tangan pengrajin bordir. Nilai inilah yang diangkat Roemah Kebaya Vielga melalui acara Behind The Stitches: Discover the Art Behind Every Kebaya, pada 28 Oktober 2026 di DEWI Luxe Market, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, dalam rangka Jakarta Fashion Week 2027.

 

Melalui pengalaman melihat proses bordir manual secara langsung, sesi berbagi, dan pemotretan kebaya eksklusif bersama fotografer profesional. Para pecinta kebaya bordir manual diajak menyelami proses kreatif di balik karya Vielga Wennida, sang desainer sekaligus pemilik Roemah Kebaya.

 

Pertemuan ini juga menghadirkan perspektif beragam, mulai dari perjalanan desainer mempertahankan bordir manual Payakumbuh, pandangan pengamat mode mengenai identitas desain, hingga pengalaman pelanggan dan generasi muda yang menemukan cara baru untuk mengenakan kebaya.

 

 

Identitas Khas Menjadi Kekuatan Brand

Perjalanan Roemah Kebaya dalam membangun identitas desain mendapat perhatian Lenny Agustin, Ketua Nasional Indonesian Fashion Chamber (IFC), yang telah mengenal karya Vielga sejak 2011. Lenny mengingat pernah berdiskusi dengan Vielga mengenai pengembangan produk, agar tidak disamakan dengan kebaya Cibadak atau kebaya encim yang banyak beredar di pasaran, khususnya di Tanah Abang.

 

Saat itu, ia menyarankan Vielga mengeksplorasi motif yang lebih khas dan berbeda. Menurutnya, ketika desain masih serupa dengan produk yang banyak dijumpai di pasaran, konsumen akan cenderung membandingkan harga. Padahal, bordir manual membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan waktu pengerjaan tersendiri.

 

Lenny juga mengingat Vielga sempat mengeluhkan produknya yang kurang diminati saat mengikuti pameran fashion week. Namun, seiring pengembangan motif yang semakin khas, Roemah Kebaya mulai membangun identitas desain yang lebih kuat. Lenny mengaku senang melihat perkembangan tersebut. Baginya, Roemah Kebaya menunjukkan konsistensi dalam berinovasi sekaligus mengembangkan karakter produknya, baik dari segi kualitas pengerjaan maupun desain. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Motif yang memiliki identitas kuat tidak hanya menjadi pembeda di pasar, tetapi juga membantu memperlihatkan nilai karya bordir manual.

 

 

Mengapresiasi Detail dan Keterampilan Perajin

Pengamat mode Ninuk Pambudi melihat Roemah Kebaya sebagai brand yang terus mengeksplorasi bordir dengan karakter beragam. Ninuk mengaku telah lama mengenal karya Roemah Kebaya. Meski beberapa desain terasa terlalu ramai bagi selera pribadinya yang cenderung menyukai gaya sederhana, ia tetap mengapresiasi kreativitas yang dihadirkan, termasuk susunan bunga yang memberikan efek tiga dimensi.

 

Ia juga menaruh perhatian pada teknik kerancang, yaitu bordir dengan detail lubang-lubang yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan khusus. Teknik ini menghadirkan karakter visual tersendiri dan menjadi bagian dari kekayaan keterampilan bordir tradisional. Menurut Ninuk, keindahan kebaya tidak selalu harus ditampilkan melalui warna mencolok atau motif yang ramai. Pemilihan benang, bahan, dan kehalusan pengerjaan turut menentukan hasil akhir. Ia sendiri memilih desain kerancang yang lebih sederhana sesuai dengan selera personalnya.

 

Lebih dari sekadar estetika, Ninuk menekankan pentingnya menghargai proses di balik bordir manual. Ia mengibaratkannya seperti batik tulis yang memiliki proses pengerjaan berbeda dari batik cetak. Baginya, harga karya perlu mencerminkan kualitas dan keterampilan yang terlibat. Di balik sehelai kebaya, terdapat para perajin serta pihak lain yang berkontribusi dalam penyediaan bahan dan benang. Ia juga menilai karya desainer lokal layak mendapatkan apresiasi yang setara dengan karya desainer internasional, apabila kualitas dan pengerjaannya sepadan.

 

Kebaya sebagai Investestasi di Bidang Fashion

Bagi Morana Rajagukguk, 27 tahun, kebaya bordir tidak harus selalu identik dengan acara formal. Ia menyukai koleksi Roemah Kebaya, termasuk edisi terbatas yang menggunakan material rubiah dan warna merah muda lembut.

 

Perempuan pecinta kebaya ini juga tertarik pada atasan berlengan pendek dengan material transparan yang mudah dipadukan dengan celana jeans. Menurutnya, desain yang tepat memungkinkan kebaya dikenakan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara formal hingga aktivitas sehari-hari. Ia menilai kebaya bordir manual layak menjadi investasi busana selama pembeli memilih desain yang benar-benar disukai dan dapat dikenakan berulang kali.

 

“Menurut saya ini worth every penny. Yang penting, kita harus membeli yang paling kita suka. Saya sendiri cukup lama mempertimbangkan pembelian kebaya pertama saya dari Roemah Kebaya karena ingin memilih busana yang benar-benar bisa dipakai berulang kali dan mudah di-mix and match,” ungkapnya. Ia terbiasa mengenakan kebaya setiap Jumat, termasuk ketika menghadiri rapat dan memberikan pelatihan. Pengalamannya memperlihatkan bahwa kebaya dapat menjadi bagian dari gaya profesional perempuan modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

 

 

Bordir Manual yang Memiliki Jiwa

Novia Dewi, ibu rumah tangga sekaligus pelanggan setia Roemah Kebaya, mengaku mulai jatuh cinta pada kebaya melalui karya Vielga sekitar 2011 atau 2012. Menurutnya, bordir manual memiliki daya tarik karena motifnya terasa hidup dan memiliki jiwa. Bahkan ketika menggunakan motif serupa, hasil pengerjaan tangan dapat memperlihatkan detail yang sedikit berbeda, menciptakan karakter unik pada setiap busana.

 

Baginya, keunikan tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan bordir manual dari bordir berbasis mesin atau komputer yang cenderung lebih seragam. Novia juga memperhatikan perawatan kebaya agar kualitas bordir tetap terjaga. Ia memilih dry cleaning dan menggunakan kain tipis sebagai pelapis ketika menyetrika sendiri.

 

Selama ini, koleksi yang dimilikinya tetap terawat dengan baik dan benang bordirnya tidak mudah terlepas. Ia mengaku berhati-hati dalam merawat kebaya, bukan hanya karena nilainya, tetapi juga karena menghargai proses pengerjaan di baliknya. Pengalaman Novia menunjukkan bahwa apresiasi terhadap bordir manual tidak berhenti ketika kebaya dibeli. Perawatan yang tepat menjadi bagian dari upaya menjaga karya tersebut agar dapat dikenakan dalam jangka panjang.

 

Melalui Behind The Stitches: Discover the Art Behind Every Kebaya, Roemah Kebaya Vielga menghadirkan ruang bagi pelanggan dan pecinta kebaya bordir untuk memahami bahwa keindahan sebuah kebaya tidak hadir secara instan. Di balik setiap motif terdapat proses kreatif, keterampilan tangan, ketelitian, serta kontribusi para perajin yang menjaga tradisi bordir manual tetap hidup. (ES | Foto: Istimewa)