Bunga selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Dalam pagelaran Sekar Setaman, Batik Danar Hadi asal Solo ini memilih taman sebagai metafora tentang perempuan Indonesia yang tumbuh dengan karakter masing-masing, lalu bertemu dalam satu ruang yang penuh harmoni.
Seluruh detail koleksi ini berangkat dari satu gagasan sederhana, keindahan lahir dari keberagaman. Seruni yang tegar, Anggrek Bulan yang lembut, Kenanga yang menenangkan, hingga Mawar yang penuh rasa dirangkai sebagai bahasa visual yang berbicara pelan namun menetap di ingatan.
“Tema ini berangkat dari cara bunga hidup berdampingan dan berbicara tentang harmoni. Kami menerjemahkannya ke dalam busana yang dekat dengan perempuan masa kini, tanpa melepaskan nilai tradisi,” ujar Managing Director Batik Danar Hadi, Diana Santosa.

Keempat bunga tersebut hadir melalui teknik batik cap, tulis, serta tulis kombinasi di atas material ringan seperti sutra crepe, Thai silk, organza, dan tenun ATBM. Palet pastel dan warna solid dipilih agar setiap motif tampil halus dan menyatu dengan siluet yang mengalir.
Pagelaran dibagi ke dalam enam rangkaian tampilan. Dimulai dari kebaya modern yang dipadukan dengan kain batik dan selendang tenun. Berlanjut ke gaya klasik yang bersih, lalu siluet feminin bernuansa cheongsam. Setelah itu, long tunik dan dress dengan detail beads, nuansa lembut dalam blouse, dress, hingga abaya, dan ditutup dengan batik tulis bermotif besar untuk busana malam.
Bunga Tanahan menampilkan long tunik, dress, dan outer dengan detail beads halus. Bunga Pastel memberi nuansa ringan lewat blouse, dress, hingga abaya. Puncaknya ada pada Bunga Tulis dengan batik tulis bermotif besar untuk tampilan malam hari.
“Kami ingin setiap perempuan merasa dekat dengan batik. Bukan sebagai busana formal semata, tetapi sebagai bagian dari keseharian yang tetap indah dan berkelas,” kata Diana
Seluruh look dipadukan dengan aksesori dari Brianstones by Dewi Abdy yang memberi aksen elegan tanpa berlebihan.
“Kami ingin batik terus bergerak mengikuti zaman tanpa melepaskan akarnya. Koleksi ini kami susun agar setiap busana punya cerita dan nilai yang bisa dirasakan pemakainya,” tutup Diana.





