Ketika K-pop dan K-drama telah lebih dulu menaklukkan hati masyarakat Indonesia, kini giliran K-Fashion menunjukkan kekuatannya. Panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026 menjadi saksi bagaimana tiga label asal Korea Selatan, yaitu OHGYO, Studio di Perla, dan CONSTELLER DL membawa perspektif baru tentang mode asal negeri gingseng. Melalui koleksi yang sarat konsep artistik dan narasi budaya, ketiganya menghadirkan pengalaman fashion yang menegaskan posisi JF3 sebagai jembatan kolaborasi kreatif antara Indonesia dan Korea Selatan.
Salah satunya adalah OHGYO yang memperkenalkan koleksi perdananya bertajuk JULY SEVEN. Koleksi ini lahir dari proyek seni tiga dimensi (3D) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk busana. Berbeda dari pendekatan mode yang mengikuti siklus musim, OHGYO membangun identitas sebagai art brand yang menjadikan karya seni sebagai fondasi utama setiap koleksinya.

Alam menjadi sumber inspirasi penting dalam JULY SEVEN. Lanskap hutan, lautan, kabut, hingga langit malam diterjemahkan ke dalam palet warna, pilihan material, serta siluet yang mencerminkan keteraturan dan siklus alam yang telah ada jauh sebelum peradaban manusia. Hasilnya adalah koleksi yang menghadirkan nuansa puitis sekaligus kontemplatif.
Presentasi OHGYO pun melampaui konsep peragaan busana konvensional. Fashion show ini dirancang sebagai proyek seni multidisiplin yang menyatukan mode, seni visual, tata suara, pencahayaan, serta performance menjadi satu narasi utuh. Setiap busana merepresentasikan emosi tertentu, sementara gerak para model dan elemen visual membangun pengalaman artistik yang imersif bagi para penonton.
Di panggung yang sama, label busana kontemporer Studio di Perla lewat perancang busana Baek Jinjoo menampilkan koleksi terbaru bertajuk APORIA. Merujuk pada kondisi ketika nilai dan konvensi yang selama ini diyakini tidak lagi mampu memberikan jawaban yang mutlak. Melalui gagasan tersebut, Studio di Perla mengajak publik mempertanyakan berbagai struktur sosial yang telah mapan, sekaligus membuka kemungkinan baru dalam cara memandang identitas.

Koleksi APORIA mengeksplorasi pembongkaran batas-batas yang dibentuk oleh gender, kelas sosial, ras, hingga otoritas budaya. Setiap rancangan menjadi refleksi perjalanan individu dalam menemukan identitas yang lebih autentik di tengah berbagai konstruksi sosial yang terus berubah.
Sementara itu, CONSTELLER DL hadir membawa filosofi “Fashion is a Canvas”, yang memadukan seni rupa dengan dunia mode. Label ini memperkenalkan karya seni media, koleksi fashion artistik, serta konsep presentasi yang menggabungkan fashion show dan pertunjukan seni dalam satu pengalaman kreatif.

Tak hanya di atas catwalk, CONSTELLER DL juga menghadirkan pop-up exhibition yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat filosofi merek sekaligus menikmati berbagai karya yang dipamerkan. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi medium ekspresi artistik yang menyatu dengan seni visual, media, dan pertunjukan.
Sebagai merek yang mengintegrasikan fashion, seni, pameran, pertunjukan, dan media ke dalam satu platform budaya. CONSTELLER DL memanfaatkan partisipasinya di BRI JF3 Fashion Festival 2026 untuk memperluas jejaring internasional serta memperkenalkan kreativitas fashion-art Korea kepada pasar global. Kehadiran tiga label Korea Selatan tersebut sekaligus memperkuat posisi JF3 sebagai festival mode yang tidak hanya menampilkan koleksi terbaru. Tapi, juga menjadi wadah dialog budaya, inovasi artistik, dan kolaborasi kreatif di tingkat internasional. (ES | Foto: Dok. JF3 Fashion Festival)





