Indonesia Fashion Week 2026 menjadi panggung baru bagi Queenera Vienata Halim Lubis. Di usianya yang baru 10 tahun, model cilik asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tersebut mencuri perhatian saat membawakan koleksi Atelier De Itja Ahmad bersama APPMI Sulawesi Selatan, sekaligus menambah daftar pencapaiannya di dunia modeling.
Kabar bahagia mengenai keikutsertaannya dalam ajang bergengsi ini pertama kali ia dengar langsung dari sang ibu. Bagi Queenera, momen tersebut terasa sangat membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat ia berhasil terpilih di antara banyaknya talenta muda berbakat dari seluruh penjuru negeri. Dengan semangat yang menggebu, perjalanan panjang dari Kepulauan Riau menuju Jakarta pun ia tempuh demi mewujudkan impiannya menapaki runway ibu kota untuk pertama kalinya.
Menariknya, sorot lampu panggung Jakarta bukanlah tantangan besar pertama bagi model cilik ini. Jauh sebelum melangkah di Indonesia Fashion Week, tepatnya pada April 2025, Queenera sudah lebih dulu mencetak prestasi di ajang internasional Bangkok Fashion Week. Di sana, ia dengan luwes membawakan busana karya desainer Tanah Air di hadapan publik mancanegara. Jam terbang itulah yang membuatnya tampil lebih matang dan siap menghadapi kemegahan panggung sekelas IFW, walaupun ia tak menampik bahwa degup jantungnya tetap saja berdebar kencang setiap kali bersiap di balik tirai.
"Aku senang sekali karena bisa tampil di Indonesia Fashion Week. Rasanya bangga karena bisa mewakili daerahku," kata Queenera.
Meski telah memiliki pengalaman di panggung internasional, rasa gugup tetap datang sebelum melangkah ke runway. Baginya, perasaan tersebut menjadi hal yang wajar dan justru membuatnya belajar mengendalikan diri.
Busana memukau bertema negeri dongeng yang ia kenakan hari itu rupanya meninggalkan memori tersendiri. Kombinasi gaun panjang dan korset sukses membuatnya merasa bagaikan putri Cinderella. Tentu saja ada tantangan di baliknya, mengingat ia harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan kostum yang lumayan berat saat berjalan di panggung.
"Rasanya benar-benar seperti Cinderella. Gaunnya sangat cantik, walau korsetnya terasa lumayan ketat. Tapi walau begitu, aku tetap berjuang untuk tampil semaksimal mungkin," ujarnya membagikan pengalaman.
Di balik kemegahan panggung, Queenera juga merasakan suasana backstage yang sibuk. Para model harus bergantian bersiap dalam waktu terbatas, sementara gaun yang menjuntai membuat mereka harus saling membantu agar tidak saling menginjak.
Ia mengungkapkan bahwa dukungan tanpa henti dari tim serta kehadiran ibunda tercinta merupakan sumber semangat terbesarnya sebelum tampil. Ketegangan pun perlahan memudar berkat momen doa bersama dan energi positif yang saling disalurkan antar sesama model, membuat suasana menjelang dimulainya pertunjukan terasa jauh lebih tenang.
"Mama selalu mendukung aku. Dan itulah yang membuat aku bisa tampil semakin percaya diri," tuturnya.
Tidak berhenti sampai di sini, Queenera rupanya masih merajut impian yang jauh lebih besar. Ia menaruh harapan agar suatu saat nanti bisa menjejakkan kaki dan melangkah anggun di panggung mode bergengsi di Paris, sekaligus membawa harum nama Indonesia ke kancah internasional. Sebagai penutup, ia turut menyempatkan diri untuk menyemangati anak-anak sebayanya yang memiliki mimpi serupa agar tidak pernah ragu atau takut untuk mulai mencoba.
"Teruslah berlatih, jangan pernah menyerah, dan yang paling penting adalah tetap menjadi diri sendiri," pesan Queenera penuh semangat.
Perjalanan Queenera memperlihatkan bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja, termasuk dari daerah yang jauh dari pusat industri mode. Dengan dukungan keluarga, kemauan belajar, dan keberanian mencoba, langkah kecil seorang anak dapat membawanya menuju panggung yang lebih besar. (Dok. Istimewa)





