Belajar fashion kini tak lagi sebatas memahami desain dan teknik di dalam kelas. Pertemuan dengan budaya, karakter industri, serta talenta dari berbagai negara dapat menjadi pengalaman yang ikut membentuk cara mahasiswa melihat dunia kreatif.
Bagi mahasiswa fashion, pengalaman belajar dapat berkembang ketika mereka bertemu lingkungan, budaya, dan karakter industri yang berbeda. Memasuki 30 tahun perjalanannya di Indonesia, ESMOD Jakarta menghadirkan Global Mobility Pathway untuk membuka akses pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa.
Melalui program ini, mahasiswa dapat memulai pendidikan di Jakarta sebelum melanjutkan studi ke jaringan ESMOD International di Paris, Seoul, Tokyo, atau Dubai. Pada tahun ketiga, mahasiswa berkesempatan belajar di salah satu kampus tersebut, kemudian kembali ke Jakarta pada tahun keempat untuk menyelesaikan pendidikan dan memperoleh dua gelar.
Chief Marketing Officer ESMOD Jakarta Suryo Danuwinoto mengatakan, Global Mobility Pathway lahir dari aspirasi mahasiswa sekaligus kebutuhan untuk memperluas pengalaman pendidikan fashion ke lingkungan global.
"Selama 30 tahun ESMOD berdiri sejak 1996, ini pertama kalinya kami meluncurkan program yang mengakomodasi aspirasi mahasiswa kami. Sebelumnya, ada mahasiswa yang sudah pernah merasakan pengalaman belajar di kampus ESMOD di Paris, Seoul, maupun kampus kami di belahan dunia lainnya," ujar Suryo.

Menurutnya, perkembangan teknologi turut membuat industri fashion semakin terhubung. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pengalaman yang lebih luas dan tidak terbatas pada lingkungan tempat mereka menempuh pendidikan.
"Saat ini vision itu tidak lagi berdasarkan pernegaraan. Semuanya sudah sangat global, apalagi dengan perkembangan teknologi dan AI. Kami ingin memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk bisa melihat dunia, tidak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai negara," katanya.
Program tersebut juga memberi kesempatan mahasiswa dari jaringan ESMOD International untuk belajar di Jakarta. Pertukaran dua arah ini menghadirkan lingkungan belajar dengan perspektif budaya yang lebih beragam, sekaligus memberi mahasiswa internasional kesempatan mengenal kekayaan kreatif Indonesia, mulai dari kain tradisional, teknik kerajinan, budaya, hingga potensi desain lokal.
Deputy Director of Academic Programs ESMOD Jakarta Guillaume Oger mengatakan, perpindahan lingkungan belajar dapat mendorong mahasiswa keluar dari pola pikir yang sudah familiar.
"Ketika mahasiswa berpindah lingkungan, mereka juga dipaksa untuk keluar dari cara berpikir yang familiar. Mereka belajar membaca budaya, beradaptasi dengan cara kerja yang berbeda, dan menemukan bagaimana identitas kreatif Indonesia dapat diterjemahkan dalam konteks internasional," kata Guillaume.
Selama tiga dekade, ESMOD Jakarta telah menghasilkan sekitar 1.000 lulusan yang berkiprah di industri fashion dan kreatif. Beberapa di antaranya adalah Sapto Djojokartiko, Ria Miranda, Hian Tjen, dan Yogie Pratama yang telah mengembangkan karya serta karier di tingkat nasional maupun internasional.
Maica Arjun, mahasiswa Fashion Design angkatan 2024, melihat program tersebut sebagai kesempatan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperluas perspektif.
"Saya ingin kembali dengan perspektif yang lebih luas, tanpa kehilangan apa yang membuat saya sebagai talenta Indonesia," ujar Maica.
Memasuki dekade keempat, ESMOD Jakarta melanjutkan perjalanannya dengan memperluas pengalaman pendidikan lintas negara. Global Mobility Pathway diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal industri fashion global sekaligus membawa identitas kreatif Indonesia ke lingkungan internasional.





