Sebanyak 76% Orang Tua Anak Neurodivergent Sadari Perbedaan Anak Sebelum Diagnosis

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan deteksi dan intervensi dini, Atelier of Minds  (AOM), pusat pembelajaran inklusif dan pengembangan anak di Jakarta Selatan, hari ini merilis hasil survei "Suara Orang Tua". Melibatkan 173 orang tua anak neurodivergent di Indonesia, termasuk anak dengan ASD, ADHD, disleksia, dan giftedness, pada periode Mei-Juli 2026. Survei tersebut mengungkap satu temuan penting: 76% orang tua mengaku menjadi pihak pertama yang menyadari adanya perbedaan pada anak mereka, bahkan sebelum dokter tumbuh kembang, psikolog, guru, maupun tenaga profesional lainnya.

 

Temuan ini mengindikasikan bahwa tantangan yang dihadapi banyak orang tua anak neurodivergent bukan semata-mata kurangnya kesadaran terhadap perkembangan anak. Sebaliknya, survei AOM menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua telah cukup peka mengenali adanya perbedaan pada anak mereka. Tantangan sesungguhnya muncul setelah kesadaran itu hadir, ketika orang tua harus mengambil keputusan di tengah banjir informasi dari berbagai sumber yang belum tentu akurat maupun relevan dengan kebutuhan spesifik setiap anak.Momen ketika orang tua mulai menyadari adanya perbedaan pada tumbuh kembang anak merupakan salah satu fase terpenting sekaligus paling rentan. Survei ini menunjukkan bahwa banyak dari mereka mencari jawaban dari berbagai sumber secara bersamaan, mulai dari mesin pencari, media sosial, sesama orang tua, hingga kecerdasan buatan (AI). Kemudahan mengakses informasi tentu membawa manfaat.

 

“Namun, tanpa pendampingan profesional, informasi yang berlimpah justru dapat menimbulkan kebingungan dan menunda langkah yang paling dibutuhkan anak. Peran profesional bukan untuk menggantikan intuisi orang tua, melainkan memvalidasi pengamatan mereka serta memberikan arahan intervensi yang tepat, berbasis bukti ilmiah, dan disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap anak," ujar Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lead Psychologist Atelier of Minds.

 

Survei juga mengungkap sejumlah tantangan lain yang menggambarkan kompleksitas perjalanan orang tua dalam mendampingi anak neurodivergent. Beban emosional masih menjadi isu yang jarang dibicarakan. Lebih dari tiga perempat responden (76%) mengaku pernah merasa kondisi anak mereka merupakan kesalahan atau kegagalan sebagai orang tua. Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap masa depan anak menjadi emosi yang paling banyak dirasakan (76%), diikuti kelelahan atau parental burnout (61%).

 

Di sisi lain, pendidikan inklusif dinilai masih menyisakan kesenjangan antara konsep dan praktik. Sebanyak 33% orang tua merasa guru di sekolah belum memahami kebutuhan anak mereka, sementara 24% menyatakan anaknya belum memperoleh akomodasi belajar yang sesuai, termasuk di sekolah yang secara resmi memiliki program inklusi.

 

Kekhawatiran orang tua juga melampaui kebutuhan terapi sehari-hari dan lebih berfokus pada masa depan anak. Sebanyak 78% responden mengkhawatirkan kemampuan anak untuk hidup mandiri saat dewasa, 65% mencemaskan peluang karier dan pekerjaan, sementara 64% mempertanyakan siapa yang akan mendampingi anak mereka ketika mereka sudah tidak ada.

 

Akses terhadap layanan juga masih menjadi tantangan yang dirasakan secara luas. Sebanyak 71% responden menyebut biaya sebagai hambatan terbesar untuk mendapatkan terapi secara berkelanjutan. Temuan ini relatif konsisten baik di Jakarta maupun di luar Jabodetabek, mengindikasikan bahwa persoalan keterjangkauan layanan bukan hanya isu perkotaan, melainkan tantangan yang dirasakan keluarga di berbagai wilayah Indonesia.

 

Meski banyak orang tua telah mencari dukungan dari sesama keluarga dengan pengalaman serupa, ruang untuk saling terhubung masih belum optimal. Sebanyak 51% responden tergabung dalam komunitas orang tua anak neurodivergent, namun menilai aktivitas komunitas tersebut belum berjalan secara aktif. Di sisi lain, 22% responden menyatakan ingin bergabung dengan komunitas serupa, tetapi belum mengetahui kemana harus mencari.

 

"Apa yang paling menyentuh saya dari survei ini adalah kenyataan bahwa begitu banyak orang tua masih merasa sendirian, meski sudah bergabung dalam sebuah komunitas. Saya pernah berada di posisi itu. Ada malam-malam ketika saya mempertanyakan apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya, atau justru membuat keputusan yang salah. Perasaan seperti itu tidak mudah diceritakan, bahkan kepada orang-orang terdekat. Karena itu, yang dibutuhkan orang tua bukan sekadar grup atau komunitas, melainkan ruang yang membuat mereka merasa dipahami tanpa harus terus-menerus menjelaskan kondisi anak maupun dirinya. Saya bersyukur survei ini menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut benar-benar dirasakan banyak keluarga, sehingga semakin menguatkan pentingnya membangun ruang dukungan yang saling menguatkan," ujar Nadira Saraswati, Founder Komunitas Berspektrum sekaligus orang tua anak neurodivergent.

 

Atelier of Minds dalam mendampingi keluarga anak neurodivergent: tantangan terbesar tidak berhenti pada proses diagnosis atau terapi, tetapi bagaimana keterampilan yang dipelajari anak dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, AOM membangun pendekatan yang tidak hanya berfokus pada perkembangan anak, tetapi juga membekali orang tua dan keluarga dengan dukungan yang mereka butuhkan untuk mendampingi proses tersebut di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sosial.

 

"Sejak awal, kami percaya bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari apa yang bisa dilakukan anak selama satu sesi terapi. Jauh lebih penting adalah apakah keterampilan itu benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, di rumah, di sekolah, dan saat berinteraksi dengan orang lain. Temuan survei ini memperkuat bahwa harapan terbesar orang tua bukan sekadar melihat perkembangan jangka pendek, tetapi membangun masa depan yang lebih mandiri bagi anak mereka. Karena itulah, Atelier of Minds  hadir: menjadi mitra bagi keluarga dalam perjalanan jangka panjang tersebut, melalui pendekatan yang menghubungkan terapi, pembelajaran, dan kehidupan nyata," tambah Chatrine Siswoyo, Founder Atelier of Minds. (Foto:

Atelier of Minds)