Membuka PINTU Dunia, Membawa Brand Indonesia ke Panggung Global Tanpa Kehilangan Akar

Perjalanan brand Indonesia dari ruang inkubasi menuju panggung internasional, dengan identitas sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh

Sebelum nama seorang desainer atau sebuah brand Indonesia sampai ke panggung dunia, ada perjalanan panjang yang berlangsung jauh dari sorotan. Ada gagasan yang berkali-kali diuji, desain yang berubah, kegagalan yang harus diperbaiki, bisnis yang harus dipelajari, hingga keberanian untuk mengetuk pintu yang selama ini terasa jauh. Bagi brand Indonesia, menuju panggung internasional bukanlah sekadar membawa koleksi ke negeri lain, karena yang dibawa adalah identitas, cerita, kualitas, dan keyakinan bahwa karya yang tumbuh di Indonesia mampu menemukan tempatnya di dunia.

 

Au-delà des frontières atau melampaui batas. Semangat itu terasa dalam perjalanan PINTU, inisiatif JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI) yang dimulai sejak 2022. PINTU bukan jalan pintas menuju Paris, melainkan proses mempersiapkan brand menghadapi ekosistem fashion internasional, melalui mentoring, pengembangan kapasitas, jejaring, dan pengalaman nyata.

 

 

Sebelum Paris, Ada Proses Panjang yang Menantang

Bagi Soegianto Nagaria, Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, fashion membutuhkan ekosistem yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan. “JF3 bukanlah sekadar sebuah acara, melainkan suatu ekosistem yang matang dan lengkap untuk mendukung para pelaku industri fashion. Salah satu program di dalam JF3 yang kami sebut PINTU Incubator telah terbukti berhasil membuka banyak peluang bagi para pesertanya untuk mengembangkan pasar hingga ke tingkat global,” ujarnya dengan nada bersemangat.

 

Pada 2026, PINTU menerima 39 pendaftar. Sepuluh peserta mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya terpilih tampil di BRI JF3 Fashion Festival 2026: Saul Studio, Toja House, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA. Sebelum mencapai panggung, mereka menjalani 39 sesi pengembangan kapasitas bersama 18 mentor dari Indonesia dan Prancis, mulai dari strategi bisnis, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, hingga penataan gaya.

 

Proses tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju dunia tidak dimulai ketika pesawat mendarat di Paris, melainkan saat sebuah brand belajar memahami siapa dirinya, siapa konsumennya, dan apakah fondasi bisnisnya cukup kuat untuk tumbuh.

 

 

Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia Thresia Mareta menegaskan bahwa pasar internasional tidak berhenti pada persoalan estetika. Ia berkata, “Pasar global tidak hanya bertanya apakah sebuah produk menarik, tetapi juga apakah produk tersebut memiliki karakter, kualitas, kapasitas produksi, harga yang sesuai, strategi distribusi, dan cerita yang cukup kuat untuk membuat orang ingin mengenalnya lebih jauh.”

 

Identitas Lokal, Bahasa Global

Perjalanan DACIA menunjukkan bahwa identitas tidak selalu hadir sejak awal. Sang desainer Daciadhia Phoebehana memulai DACIA ketika masih kuliah dan melewati berbagai eksperimen untuk menemukan karakter serta DNA brand. “Di awal perjalanannya banyak melalui proses percobaan, trial and error. Saya banyak mengeksplorasi berbagai arah untuk menemukan karakter dan DNA brand DACIA,” tuturnya.

 

 

Pada BRI JF3 Fashion Festival 2026, DACIA mempersembahkan koleksi "ORIGO S/S27", yang terinspirasi dari akar budaya dan lanskap Pulau Bangka. Berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘asal’ atau ‘awal mula’, ORIGO mengeksplorasi identitas melalui keterikatan dengan sebuah tempat. Koleksi ini mengambil inspirasi dari garis pantai granit, lanskap bernuansa bumi, palet warna alami, serta keindahan kerajinan kain cual. Alih-alih merekonstruksi busana tradisional, koleksi ini menafsirkan kembali berbagai elemen tersebut melalui streetwear kontemporer dengan menghadirkan siluet modern yang berani, ekspresif, serbaguna, dan relevan untuk dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sementara Aldrie, label fashion kontemporer Indonesia yang didirikan pada 2015 oleh Aldri Indrayana, menggabungkan pendekatan seni, bisnis, dan terapi. Ia menerjemahkan mitos budaya Indonesia, folklore, serta simbolisme gelap ke dalam busana kontemporer melalui siluet minimalis berkarakter avant-garde. Brand ini juga dikenal atas eksplorasi batik dan tenun dalam bahasa desain yang tidak konvensional, serta komitmennya terhadap sustainability melalui praktik upcycling dan pemanfaatan limbah plastik daur ulang. Pada BRI JF3 Fashion Festival 2026, Aldrie mempersembahkan koleksi bertajuk ‘ROACH ME, ROACH ME NOT’, mengeksplorasi paradoks maskulinitas melalui ketakutan sederhana yang sering kali dialami laki-laki terhadap kecoa.

 

 

Lain lagi dengan Andrean Nuur Ramadhan yang biasa disapa Ramon memulai brand ANDREAN NR pada 2019, dari keresahan tentang fashion yang tidak terlalu dibatasi gender dan bentuk tubuh, sekaligus mengeksplorasi denim, recycling, dan elemen budaya Indonesia. “Saya belajar bahwa membangun brand bukan cuma soal membuat desain yang bagus, tapi juga tentang bisnis, produksi, branding, komunikasi, sampai bagaimana sebuah karya bisa memiliki value dan relevansi yang lebih luas,” ujarnya.

 

Bagi Ramon, pasar internasional tidak selalu mencari sesuatu yang terlihat ‘Indonesia’ secara harfiah. Karakter, cerita, craftsmanship, dan sudut pandang juga menjadi kekuatan. Karena itu, ia ingin membawa identitas sebagai desainer Indonesia ke dalam bahasa fashion yang lebih universal, bukan mengubahnya agar menyerupai brand luar.

 

 

Ia mempersembahkan koleksi terbarunya bertema ‘Di Tengah Perjalanan’, pada BRI JF3 Fashion Festival 2026 menceritakan kisah tentang pertumbuhan, ketangguhan, dan penemuan diri. Terinspirasi keyakinan bahwa setiap langkah membentuk jati diri kita, koleksi ini menafsirkan ulang blankon sebagai bahasa desain kontemporer, menerjemahkan filosofinya ke dalam busana pria modern yang terasa relevan, nyaman dipakai, dan otentik.

 

Paris Bukan Garis Akhir

Lil Public adalah urban wear fashion label yang memadukan fashion dengan literasi. Setiap koleksi lahir dari sebuah buku dan diterjemahkan menjadi karya yang dapat dikenakan. Melalui ilustrasi dan eksplorasi siluet, Lil Public menjadikan pakaian menjadi tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga membawa cerita di balik setiap desainnya.

 

Pengalaman Lil Public yang didirikan oleh duo desainer Muhammad Hafiz dan Al Liefta memperlihatkan bagaimana kesiapan tersebut diuji, ketika sebuah merek benar-benar berhadapan dengan pasar internasional. Brand streetwear asal Bandung ini membawa Hisashi Series ke Première Classe Paris pada 2025, setelah melalui mentoring dan kurasi PINTU. Di Jardin des Tuileries, mereka berhasil menarik buyer dari Amsterdam dan Jepang pada hari pertama.

 

Namun, Paris juga menghadirkan pertanyaan: apakah karya yang tumbuh di Bandung relevan dengan pasar Prancis? Lil Public pun harus membaca target market, kultur, dan kondisi pasar dengan cermat. Respons audiens ternyata positif dan bagi mereka pengalaman tersebut justru memperkuat identitas brand. “Kami semakin tahu bagaimana desain yang bagus menyesuaikan dengan identitas kami. Jadi, kami semakin terarah untuk selalu semakin berkembang, karena melihat begitu banyak brand di Paris menjadi kiblat dunia, tapi tanpa kehilangan identitas mereka,” kata Al.

 

 

Lil Public kemudian kembali tampil di Paris pada 8 Juli 2026 melalui International Duperré Show dalam ajang Rolling Fashion di École Duperré Paris dengan membawa Osamu Series. Paris pun berubah makna: bukan hanya panggung untuk mendapatkan exposure, tetapi cermin untuk melihat dunia sekaligus memahami kembali kekuatan diri. Di sinilah romantisme tentang ‘go international’ perlu diuji. Tampil di Paris bukan berarti menaklukkan pasar global. Setelah runway, pesanan harus dipenuhi, produksi dijaga, kualitas dipertahankan, harga diperhitungkan, dan hubungan dengan buyer dirawat.

 

Thresia mengingatkan bahwa peluang global tidak mungkin dikejar sekaligus. Brand muda perlu memilih pasar, memahami konsumen, mengembangkan produk yang tepat, lalu membangun kehadiran secara konsisten. Dengan sumber daya yang terbatas, fokus bukan memperkecil mimpi, melainkan membuatnya memiliki fondasi.

 

Ketika Prancis Datang Belajar

PINTU tidak hanya bergerak dari Indonesia menuju Prancis. Melalui PINTU Residency, arah pertukaran berjalan sebaliknya. Desainer Prancis datang ke Indonesia untuk belajar dari tekstil, teknik kerajinan, dan pengetahuan yang hidup di komunitas artisan.

 

 

Kolaborasi Mickaël Nana, desainer Prancis pendiri MARLON NANA dan Beatrice Angelica, desainer Indonesia pendiri NOEN, melahirkan koleksi Garuda yang terinspirasi tenun Lombok. Bagi Mickaël kolaborasi bukan sekadar menggunakan material Indonesia, melainkan menciptakan karya bersama sejak awal. “Kami seperti rekan dalam merancang. Kami berkolaborasi dalam segala hal, mulai dari pemilihan bahan, desain, proses pengerjaan, hingga konsep pemotretan. Semuanya kami kerjakan bersama,” ujarnya penuh antusias.

 

Pertukaran serupa pun berlangsung melalui Lisa Rayar, desainer Prancis, dan Gabriel Marcella Budiono, desainer Indonesia. Ketertarikan Lisa terhadap batik membawanya ke Cirebon dan mempertemukannya dengan proses pembuatan yang membutuhkan ketelitian serta waktu panjang. Batik kemudian dipertemukan dengan denim dan jaring melalui pendekatan kontemporer. “Pengalaman di Cirebon semakin memperdalam pemahaman saya akan batik. Saya melihat secara langsung bagaimana motif dibuat dengan ketelitian tinggi dan menyadari bahwa kain bukan sekadar benda yang indah, melainkan hasil dari pengetahuan dan waktu yang panjang,” papar Lisa.

 

 

Dua kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa PINTU bukanlah perjalanan satu arah. Indonesia bukan hanya pihak yang belajar dan Prancis bukan sekadar pasar yang ingin dituju. Keduanya bertemu untuk bertukar gagasan, teknik, pengalaman, dan cara melihat fashion.

 

Carol Meyer, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, melihat PINTU dalam kerangka tersebut. Melalui fashion, menurutnya, Indonesia dan Prancis tidak hanya bertukar karya, tetapi juga pengetahuan, perspektif, dan pengalaman. PINTU membuka kesempatan bagi profesional Indonesia mengenal dan mengakses pasar Prancis, sekaligus memberi kesempatan profesional Prancis menemukan kekayaan gaya hidup, tradisi, dan craftsmanship Indonesia.

 

Membawa Indonesia Tanpa Kehilangan Akar

Pada akhirnya, menjadi global bukan berarti meninggalkan muatan lokal. Justru, tantangannya adalah membuat sesuatu yang lahir dari Indonesia mampu berbicara dalam bahasa yang dipahami dunia, tanpa kehilangan maknanya. Tentunya, tanpa melupakan akar: sans oublier nos racines. Sebab, ketika sebuah brand Indonesia berdiri di panggung dunia, yang hadir bukan hanya sebuah label. Ada proses panjang, tangan artisan, pengetahuan yang diwariskan, keberanian untuk mencoba, dan identitas yang dibangun sedikit demi sedikit.

 

PINTU boleh membuka jalan. Setelah pintu terbuka, brand Indonesia harus melangkah dengan kakinya sendiri dan membawa Indonesia ke dunia, tanpa kehilangan akarnya… (Elly Simanjuntak | Foto: Dok. Istimewa)