Kelahiran merupakan proses yang menandakan dimulainya kehidupan baru baik bagi anak maupun orang tua. Baik melalui persalinan pervaginam maupun persalinan caesar (caesarean section), setiap proses kelahiran memiliki makna yang berharga bagi setiap ibu dan keluarga.
Berbeda dengan persalinan normal, jumlah persalinan caesar terus meningkat di Indonesia hingga mencapai 25,9% atau sekitar 1 di antara 4 di tahun 2023 dari semua proses kelahiran. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat di dekade mendatang. Seiring dengan meningkatnya angka persalinan caesar di Indonesia, perhatian terhadap faktor-faktor yang mendukung kesehatan anak sejak awal kehidupan menjadi semakin penting. Termasuk kesehatan saluran cerna dan perkembangan mikrobiota usus yang berperan dalam mendukung sistem imun dan tumbuh kembang anak.
dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFm, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal mengatakan, “Di Indonesia, jumlah persalinan caesar terus meningkat sejak tahun 2013 dan diprediksi akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Tren peningkatan ini tidak hanya dipengaruhi oleh indikasi medis, tetapi juga berbagai faktor non-medis.Jika dilakukan sesuai indikasi medis, persalinan caesar berperan dalam menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.Namun, perlu dipahami bahwa proses persalinan normal dan persalinan caesar dapat memberikan paparan lingkungan awal yang berbeda, termasuk dalam proses kolonisasi mikrobiota usus anak pada awal kehidupan.
Lebih lanjut dr. Febriansyah Darus menjelaskan, “Perkembangan mikrobiota usus sudah menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sejak masa kehamilan hingga setelah bayi lahir. Nutrisi ibu selama kehamilan, proses persalinan, pemberian ASI, serta pemenuhan nutrisi setelah melahirkan merupakan rangkaian faktor yang saling berkaitan dalam mendukung kesehatan ibu dan anak”.
Pada tiga tahun pertama kehidupan menjadi periode penting bagi perkembangan mikrobiota usus, pematangan saluran cerna, dan perkembangan sistem imun. Keseimbangan mikrobiota pada periode ini perlu diperhatikan karena gangguan keseimbangan mikrobiota usus atau disbiosis usus dapat berdampak pada kesehatan saluran cerna dan perkembangan sistem imun.
Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menjelaskan, “Tiga tahun pertama kehidupan merupakan periode yang sangat penting karena mikrobiota usus terus berkembang bersamaan dengan proses pematangan saluran cerna dan sistem imun. Berbagai faktor pada awal kehidupan, termasuk metode persalinan, dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus. Pada persalinan normal, anak terpapar mikroorganisme yang berasal dari ibu, yang berkontribusi terhadap pembentukan mikrobiota usus di awal kehidupan. Proses ini umumnya dikaitkan dengan kolonisasi bakteri Bifidobacterium, yang berperan dalam maturasi saluran cerna dan perkembangan sistem imun. Sebaliknya, anak yang lahir melalui persalinan caesar memiliki kolonisasi mikrobiota usus yang berbeda karena tidak melalui proses paparan yang sama selama persalinan.”
Perbedaan pola kolonisasi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus pada awal kehidupan dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya disbiosis usus. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan dan keragaman mikrobiota usus sejak awal kehidupan merupakan bagian penting dari upaya mendukung pematangan saluran cerna, perkembangan sistem imun, dan tumbuh kembang anak."
Para ahli kesehatan telah sepakat bahwa saluran cerna tidak hanya berperan dalam proses pencernaan, tetapi juga dalam penyerapan nutrisi yang optimal, sehingga dapat mendukung tumbuh kembang optimal dan fondasi imunitas anak. Saluran cerna juga merupakan ekosistem yang kompleks yang dihuni oleh sekitar 40 triliun mikrobiota. Mikrobiota usus berperan dalam berbagai fungsi penting tubuh, termasuk menjaga kesehatan saluran cerna dan mendukung regulasi sistem imun. Sekitar 70% sel imun tubuh berada di saluran cerna.
Sehingga interaksi antara mikrobiota usus dan sistem imun berperan penting dalam proses pematangan serta fungsi daya tahan tubuh anak. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota usus menjadi salah satu faktor yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemberian biotik, seperti prebiotik, probiotik, dan sinbiotik, yang membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus sehingga mendukung kesehatan saluran cerna dan penyerapan nutrisi anak yang optimal.
"Intervensi nutrisi berbasis sains, termasuk sinbiotik, dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung kesehatan saluran cerna. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sinbiotik dapat membantu memulihkan disbiosis usus pada anak yang lahir secara caesar.," tambah dr. Andy Darma.
Selain berperan penting dalam mendukung perkembangan sistem imun, saluran cerna juga sering dikaitkan dengan konsep gut-brain axis (GBA), yaitu sistem komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak. Melalui mekanisme ini, kondisi saluran cerna, termasuk mikrobiota usus, dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi emosi, perilaku, dan fungsi kognitif. Sebaliknya, kondisi psikologis dan fungsi otak juga dapat memengaruhi fungsi saluran cerna. Hubungan yang kompleks ini menunjukkan bahwa kesehatan saluran cerna tidak hanya penting bagi kesehatan fisik, tetapi juga berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. (ES | Foto: Dok. GIC)





