YJI dan PERKI Luncurkan Kampanye Hari Jantung Sedunia 2026, Fokus pada Deteksi Dini

 

Menjaga kesehatan jantung perlu dimulai sebelum munculnya keluhan. Pemeriksaan rutin, mengenali faktor risiko, dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyakit kardiovaskular sejak dini.

 

Pesan tersebut menjadi bagian dari kampanye nasional Hari Jantung Sedunia 2026 yang diluncurkan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Mengusung tema "Don't Miss A Beat", kampanye ini resmi diluncurkan di Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

 

Ketua Umum YJI Annisa Pohan Yudhoyono mengatakan, salah satu fokus utama tahun ini adalah program skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) pada anak dan remaja. Program tersebut berjalan di empat wilayah, yakni Malang, Tulang Bawang di Lampung, Bekasi, dan Minahasa Utara.

 

PJR menjadi perhatian karena dapat berawal dari infeksi bakteri Group A Streptococcus. Infeksi yang tidak ditangani secara tepat dapat memicu reaksi autoimun yang kemudian menyerang organ tubuh, termasuk jantung.

 

Kondisi tersebut dapat berkembang tanpa keluhan yang mudah dikenali. Karena itu, YJI menempatkan skrining sebagai langkah untuk menemukan kondisi tersebut lebih awal sekaligus memberikan tindak lanjut bagi anak yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

 

"Skrining PJR adalah bentuk deteksi dini dan intervensi tepat sasaran. Kami ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya karena penyakit jantung yang seharusnya bisa dicegah," ujar Annisa.

 

Program skrining tersebut menjadi bagian dari target pemeriksaan terhadap 8.000 anak dan remaja selama dua tahun. Dalam pelaksanaannya, YJI menggunakan perangkat ekokardiografi portable agar pemeriksaan dapat dilakukan langsung di wilayah yang menjadi sasaran program.

 

Selain PJR, pemeriksaan juga dapat menemukan kondisi kesehatan lain pada anak, termasuk penyakit jantung bawaan dan stunting. Data tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari gambaran kesehatan anak di wilayah yang diperiksa.

 

Hasil skrining juga tidak berhenti pada pendataan. Anak yang terindikasi memiliki masalah jantung akan mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan dan dokter spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut serta penanganan sesuai kondisi masing-masing.

 

"Kami ingin memastikan deteksi dini tidak hanya menjadi hak mereka yang tinggal di kota besar, tetapi juga anak-anak di daerah," kata Annisa.

 

Selain program untuk anak dan remaja, YJI menjalankan pemeriksaan kardiovaskular bagi masyarakat umum. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta sejumlah faktor risiko penyakit kardiovaskular.

 

Pendekatan tersebut dilakukan dengan mendatangi komunitas, tempat kerja, dan wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pemeriksaan kesehatan. Annisa mengatakan, masyarakat perlu didorong untuk memeriksakan kondisi jantung sebelum muncul gejala.

 

"Kami di YJI tidak menunggu didatangi, tetapi kami jemput bola. Kami turun langsung ke masyarakat dan memberikan pemeriksaan kesehatan gratis," ujarnya.

 

Rangkaian kampanye Hari Jantung Sedunia 2026 juga menghadirkan charity fashion show Fashion Nation 20th Edition pada 25 September 2026 di Senayan City, Jakarta. Acara tersebut menampilkan sejumlah desainer, di antaranya Amot Syamsurimuda, Rinda Salmun, dan Glashka, bersama dokter spesialis jantung serta sejumlah figur publik sebagai muse.

 

Sebagian hasil penjualan acara akan didonasikan untuk membantu anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dari keluarga pra-sejahtera. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara YJI menghubungkan pesan kesehatan jantung dengan partisipasi masyarakat.

 

Ketua Bidang Komunikasi YJI Iwet Ramadhan menjelaskan, kampanye tahun ini menggunakan pendekatan 3E, yaitu Educate, Engage, dan Activate. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memberikan informasi kesehatan yang mudah dipahami, melibatkan publik dan komunitas, sekaligus mendorong masyarakat mengambil tindakan.

 

"Educate, informasi kesehatan yang kredibel dan mudah dicerna. Engage, melibatkan publik figur, komunitas, dan media. Activate, mendorong aksi nyata seperti olahraga dan pola hidup sehat," ujar Iwet.

 

Puncak rangkaian Hari Jantung Sedunia 2026 akan berlangsung melalui World Heart Day Run 2026 pada 27 September 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan 5K Fun Run, Senam Jantung Sehat, edukasi MENARI atau Meraba Nadi Sendiri, pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BLS), serta Body Transformation Competition.

 

Program MENARI mengajak masyarakat mengenali denyut nadi sendiri dan memperhatikan kemungkinan gangguan irama jantung. Sementara itu, pelatihan BLS memberikan pengetahuan mengenai langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi kondisi henti jantung, termasuk melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan penggunaan AED.

 

Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026 dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), mengatakan aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan perlu berjalan beriringan dalam upaya menjaga kesehatan jantung.

 

"Aktivitas fisik terukur dan skrining rutin adalah kunci pencegahan penyakit kardiovaskular," ujarnya.

 

Kampanye tersebut turut mendapat dukungan OMRON Healthcare Indonesia. Direktur OMRON Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe mengatakan, upaya pencegahan perlu didukung kesadaran masyarakat untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala.

 

Dukungan tersebut sejalan dengan visi global OMRON, "Going for Zero", yang mendorong pencegahan komplikasi stroke dan serangan jantung melalui deteksi dini dan pemantauan kesehatan.

 

"Sejalan dengan visi Going for Zero, OMRON percaya bahwa pencegahan penyakit kardiovaskular perlu dimulai dari kesadaran dan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari," ujar Tomoaki.

 

Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia Fanny Himawan menambahkan, masyarakat kini dapat melakukan pemantauan kesehatan dari rumah dengan perangkat yang dirancang untuk mengukur tekanan darah dan membantu mengenali kemungkinan gangguan irama jantung.

 

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat PERKI dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya penyakit untuk mulai menjaga kesehatan jantung.

 

"Jantung sehat dimulai dari mencegah dan deteksi dini," ujar Ade.

 

Ia menganjurkan masyarakat menjaga aktivitas fisik, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, berhenti merokok, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. (Dok. YJI)