Raih Sertifikat B Corp SukkhaCitta Ciptakan Peluang Ekonomi Sekaligus Merawat Bumi

 

Tren hidup berkelanjutan sedang berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu implikasinya adalah cara konsumsi berpakaian, mulai dari kesadaran beralih ke material ramah lingkungan, tren thrifting, upcycle, hingga reuse. Hal ini juga disambut dengan meningkatnya antusiasme brand-brand mode meluncurkan sustainable fashion.

 

Sertifikasi B Corp kemudian menjadi standar perusahaan pelopor fashion berkelanjutan. SukkhaCitta menjadi salah satu brand fashion lokal yang menerima sertifikat tersebut dan mencatat skor signifikan, yakni 95.3, dari skor pada umumnya senilai 50.9. Selain itu, brand yang berbasis di Bali ini juga turut mendapatkan penghargaan B Corp Best For The World kategori komunitas dengan skor 5% teratas dari kategori komunitas.

 

BACA JUGA:

APR Hadirkan Re-See Jakarta Fashion Week 2023 Collection

Koleksi Baur Sejauh Mata Memandang Rayakan Delapan Tahun Berkarya

 

“Sejak SukkhaCitta didirikan, kami ingin menunjukkan bahwa praktik pada industri Fashion yang berbeda itu sangat memungkinkan. Perubahan yang menciptakan peluang bagi perempuan pengrajin dan petani di tempat mereka berada serta merawat bumi bisa dilakukan pada saat yang bersamaan," ujar Founder dan CEO SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch. Sertifikasi tersebut sekaligus menjadikan SukkhaCitta sebagai brand fashion pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi B-Corp.

 

Sejak didirikan pada tahun 2016, SukkhaCitta secara konsisten mengutamakan praktik kerja yang sehat bagi para pengrajin dan petani, untuk mendapatkan upah yang layak serta merawat bumi melalui regenerative farming. Dimulai dari tiga orang ibu di desa, kini lebih dari 1500 kehidupan juga turut merasakan dampaknya.

 

 

 

Mengusung konsep Farm-to-Closet, SukkhaCitta berguru kepada para ibu di desa dalam menciptakan pakaian menggunakan material dan proses alami. Salah satunya dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari tanaman dan limbah pertanian.

 

Selain itu, SukkhaCitta juga menanam kapas sendiri dengan menggunakan metode tumpang sari. Sebuah metode dengan kearifan lokal yang alami agar terhindar dari hama tanpa menggunakan pestisida. Kapas yang menghasilkan kain, kemudian dijadikan pakaian untuk dikenakan dan 100% dapat ditelusuri asalnya. Dari hasil penjualannya, 56% dikembalikan langsung kepada para pengrajin dan petani di desa-desa.

 

 

 

Setelah enam tahun berjalan secara daring, SukkhaCitta juga resmi menghadirkan toko pertamanya di pusat perbelanjaan ASHTA, Jakarta Selatan. Upaya ini dilakukan guna menjembatani konsumen dengan perempuan pengrajin serta petani di desa untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Sebelumnya, SukkhaCitta mengadakan pameran edukasi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan pemberdayaan perempuan di desa kepada publik yang bertajuk KAPAS pada April 2022, yang menarik minat sebanyak 20.000-30.000 pengunjung serta diliput oleh lebih dari 40 media di Indonesia dan Singapura.

 

Nur A | Dok. SukkhaCitta