Ajak Masyarakat Deteksi Dini Risiko Neuropati Diabetik

Memperingati Hari Diabetes Sedunia 2022 yang jatuh pada 14 November lalu, P&G Health melalui brand Neurobion resmi meluncurkan aplikasi penilaian risiko neuropati pertama di Indonesia, yakni Neurometer. Selain itu, di momen yang sama, Neurobion juga melanjutkan edukasi mengenai neuropati dengan meluncurkan kampanye ‘Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan’.

 

Maithreyi Jagannathan selaku General Manager Personal Healthcare, P&G Health Indonesia mengatakan, “Sebagai mitra dari International Diabetes Federation (IDF), P&G Health berkomitmen mendukung Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pemahaman mengenai diabetes dan komplikasinya termasuk neuropati perifer dan kerusakan saraf. Dan sebagai bagian dari upaya ini, dalam rangka World Diabetes Day, kami meluncurkan kampanye ‘Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan’.

 

Sekaligus, memperkenalkan aplikasi penilaian risiko neuropati pertama di Indonesia, NEUROMETER, yang dapat memberikan informasi dan alat deteksi dini dan mudah digunakan untuk mendukung penanganan neuropati perifer yang cepat.”

 

Baca Juga:

Sajikan Atraksi Live Teppanyaki

Sang Womanpreneur Multitalenta & Aktif di Dunia Sosial

 

Menurut laporan International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10, satu dari 10 orang atau sebanyak 537 juta orang di dunia hidup dengan diabetes. Jika tidak segera dilakukan intervensi, angka ini akan meningkat pesat. Bahkan bisa mencapai 643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada tahun 2045.

 

Kampanye ‘Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan’ terdiri dari berbagai kegiatan, seperti seminar, pelaksanaan Neuropathy Check Point di 8 titik di Jakarta & sekitarnya. Selain itu dilakukan pula edukasi awam melalui media sosial dan peluncuran Neurometer, aplikasi penilaian risiko neuropati pertama di Indonesia, yang dapat diakses melalui akun Instagram Neurobion.

 

“Neurometer berisi beberapa pertanyaan yang dapat menilai risiko seseorang terhadap neuropati. Aplikasi berbasis web ini bukan merupakan alat diagnosis mandiri dan tidak menggantikan diagnosis medis. Namun, hasil dari penilaian risiko ini dapat membantu untuk dapat berkonsultasi lebih lanjut ke dokter,” tutup Anie Rachmayani selaku Brand Director Personal Healthcare P&G Health Indonesia.