Lebih dari Sekadar Buku, ITS Abadikan 100 Kisah Alumni yang Mengubah Wajah Indonesia

Di tengah derasnya perubahan dunia pendidikan tinggi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember justru memilih berhenti sejenak untuk merawat sesuatu yang sering terlupakan: cerita. Bukan cerita biasa, melainkan perjalanan hidup para alumninya yang telah melangkah jauh dan memberi dampak nyata di berbagai sektor. Upaya itu diwujudkan melalui peluncuran buku “100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater” yang diperkenalkan dalam suasana hangat di Surabaya, 30 April 2026.

Momentum ini terasa lebih dalam dari sekadar peluncuran buku. Ada pesan kuat yang ingin disampaikan, bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi titik awal perjalanan panjang yang hasilnya bisa menjangkau jauh melampaui ruang kelas. Buku ini menjadi penghubung antara dunia akademik dan realitas profesional yang terus bergerak.

Penyerahan buku oleh penyuntingnya, Bambang Sadono, kepada Rektor ITS, Bambang Pramujati, berlangsung sederhana namun sarat makna. Tidak ada kesan formal yang berlebihan. Yang terasa justru kebanggaan yang jujur dan hubungan emosional yang masih terjaga erat antara alumni dan almamaternya.

Buku ini tidak sekadar menyusun profil. Ia merangkum perjalanan, pilihan hidup, kegagalan, hingga keberhasilan yang diraih para alumni. Seratus sosok yang diangkat datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari industri, dunia usaha, pemerintahan, hingga akademik. Keberagaman ini menjadi bukti bahwa ITS tidak mencetak satu tipe lulusan, melainkan membuka banyak jalan bagi setiap individunya.

Yang membuat buku ini menonjol adalah pendekatan naratifnya. Alih-alih menampilkan deretan prestasi semata, buku ini menghadirkan sisi manusia dari setiap tokoh. Pembaca diajak memahami bahwa kesuksesan bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang, keputusan yang tidak selalu mudah, dan konsistensi yang dijaga dalam waktu yang tidak singkat.

Bagi mahasiswa, buku ini bisa menjadi cermin sekaligus arah. Cermin untuk melihat kemungkinan diri, dan arah untuk memahami bahwa setiap perjalanan punya jalannya masing-masing. Sementara bagi alumni, buku ini menjadi pengingat bahwa hubungan dengan kampus tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada ruang untuk kembali memberi dampak.

Di sisi lain, peluncuran buku ini juga membawa pesan yang lebih luas. Pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi membentuk manusia yang berkontribusi bagi masyarakat. Kisah-kisah dalam buku ini menjadi bukti bahwa dampak pendidikan sering kali tidak terlihat secara instan, tetapi terasa dalam perjalanan waktu.

Bambang Pramujati melihat inisiatif ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kampus yang terus terhubung dengan alumninya. Sementara Bambang Sadono melalui buku ini seperti sedang memastikan bahwa jejak-jejak penting tersebut tidak hilang, melainkan terdokumentasi dan bisa menjadi inspirasi lintas generasi.

Pada akhirnya, buku “100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater” bukan hanya tentang merangkum masa lalu. Ia adalah cara untuk merawat ingatan, menyusun ulang cerita-cerita inspiratif, dan membagikannya kepada publik yang lebih luas. Dari sana, muncul harapan sederhana namun kuat: agar semakin banyak kisah baik lahir dan suatu hari kembali menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.