Dalam berkarya musik dapat dilakukan di tempat mana saja dengan karya mendalam dan penuh imajinasi. Demikian dengan Kamila Batavia, musisi asal Jakarta yang kini berbasis di Hamburg, Jerman, memperkenalkan konsep artistik unik bertajuk Baroque Galactic melalui single terbarunya yang berjudul ‘Tayomi’.
Baroque Galactic bukan sekadar genre, melainkan sebuah ruang visual dan auditori yang diciptakan Kamila untuk menyatukan ingatan, kehilangan, dan harapan. Menggabungkan kemegahan nuansa klasik Eropa dengan imajinasi kosmik yang luas, menciptakan jembatan emosi yang terasa melintasi dimensi waktu.
Melalui single Tayomi, lahirlah sebuah micro-genre baru dan Kamila memetakan seribu tahun peradaban dalam satu lagu. Elemen instrumen medieval, ornamentasi dan filosofi baroque berpadu dengan tekstur luar angkasa yang luas. Ia berkata, “Di dalamnya, saya menuliskan sebuah surat cinta untuk mendiang ibu saya dalam konsep yang tak lekang oleh waktu, melalui bahasa yang jujur, presisi secara emosional, dan lapisan liris yang bekerja layaknya sastra.” Terbukti di frase “ku bangun istana dari puing memori” sebagai bukti ketahanan emosionalnya dalam reruntuhan hidup dan kehilangan mendalam sekaligus permintaan relasi setara di lirik “tak ada usia di surga nanti, maukah kau menjadi teman sejati?”
Nama Tayomi sendiri diambil dari nama mendiang ibunya yang berakar dari bahasa Jawa — Tak Ayomi, yang berarti ‘aku lindungi kamu.’ “Sebuah janji yang Kamila percayai masih hidup, melampaui waktu dan jarak. Bergerak di antara lintas budaya, lintas bahasa, dan lintas zaman, Tayomi menjadi ruang pertemuan antara akar emosional Asia Tenggara dan pendekatan artistik Eropa yang reflektif. Pendekatan ini membentuk dunia sonik yang personal namun universal, intim namun tetap luas,” tambah Kamila.
Diproduseri oleh Celtic-folk artist Ian Fontova (Spanyol) bersama Kamila Batavia, serta diarahkan penuh secara artistik oleh Kamila sebagaimana pada EP The Scent of Camellias, lagu ini dikemas dengan ketelitian historis dan artistik. Pendengar diajak melakukan time travel dari masa ketika mesin belum lahir, hingga masa depan di mana manusia hanya tersisa sebagai residu di ruang angkasa.
“Menurutku, cintaku kepada mendiang ibuku begitu besar, hingga satu periode peradaban pun terasa tidak pernah cukup untuk menampung rasa rindu itu. Dari sanalah genre baroque galactic ini lahir sebagai upayaku menerjemahkan filosofi hidup ke dalam sebuah dunia visual dan audio,” ujar Kamila, dengan senyum tipis, menahan haru.
Keunikan Tayomi terasa dari bagaimana timbre instrumen medieval Rebec ikut menjadi narator berdampingan dengan vokal, layered guitar yang dimainkan menyerupai struktur instrumen baroque seperti harpsichord, serta tekstur luar angkasa berupa reversed piano dan orbiting star noises di beberapa bagian lagu. Semua ini menandai kolaborasi internasional yang solid, memetakan elemen dari niche genre dengan presisi dan kesadaran artistik yang utuh.
Pendekatan Kamila mendekati konsep Gesamtkunstwerk — sebuah karya total di mana musik, visual, simbol, dan narasi tidak berdiri terpisah, melainkan membentuk satu dunia artistik yang saling terhubung. Single Tayomi menjadi pembuka dari album yang tengah ia rencanakan untuk beberapa tahun ke depan berjudul “Memento Mori: The Baroque Galactic Era”, sebuah fase Kamila akan memperdalam dan memperluas dunia baroque galactic ciptaannya. (Foto: Dok. Kamila Batavia)





