Menyambut ajang JF3 (Jakarta Fashion & Food Festival) pada Juli 2026 yang selalu ditunggu-tunggu para insan mode, Summarecon Mall Kelapa Gading (MKG) mengadakan JF3 TALK 2026. Kegiatan ini berlangsung pada 19 Mei 2026 di Summarecon Discovery, La Piazza MKG dihadiri para insan media, desainer, brand, akademisi, dan pelaku industri fashion di Tanah Air untuk saling bertukar informasi dan tantangan baru industri fashion.
Ajang diskusi ini menghadirkan Thresia Mareta (Advisor JF3, Co-Founder PINTU & Founder LAKON Indonesia), Daniel Ngantung (Editor Detik Wolipop), dan Hilmy Faiq (Editor Harian Kompas). JF3 Talk kali ini menekan pesan penting untuk dipahami. Di tengah industri yang kian kompetitif dan situasi ekonomi global maupun lokal yang menantang, karya yang baik tetap membutuhkan komunikasi yang tepat, gar dapat dipahami, dipercaya, dan berkembang secara berkelanjutan.
Tahun ini, perhelatan akbar JF3 mengambil tema “Recrafted: Shaping the Future”. Tema tersebut menjadi penggambaran bahwa fashion bukan hanya tren, melainkan bagaimana industri fashion dibentuk lewat kisah, perspektif, dan kolaborasi yang terjadi di baliknya. Diskusi ini pun yang berusaha menyatukan segala pandangan, sehingga seluruh elemen dalam JF3 bisa saling bersinergi.

Tumbuh Bersama-sama Bersinergi
"JF3 bukan hanya platform untuk tampil saja, di sini kami ingin kita benar-benar bisa saling mengisi, saling berbagi ilmu supaya kita semua bisa tumbuh bersama. Eksekusi tidak bisa dilakukan oleh JF3 saja, tapi harus oleh semua pelaku juga,” ujar Thresia Mareta selaku Advisor JF3, Co-Founder PINTU, & Founder LAKON Indonesia menyampaikan.
Thresia melihat bahwa koneksi antar elemen selama ini belum benar-benar terjalin baik. Ada media, ada pelaku industri fashion. Namun, pelaku belum sepenuhnya mengerti media. Media pun belum sepenuhnya mengerti pelaku "Media sering bingung apa yang mau ditulis karena pelakunya pun belum mengerti apa yang menarik buat mata jurnalis. Media online memang banyak sekali, tapi tidak semuanya kompeten dan yang ramai belum tentu yang pantas dibaca," katanya.
Berkomitmen mendorong pertumbuhan secara konkret, JF3 tahun ini menguatkan lima program strategis:
Fashion Village & CODE.STRT: Wadah uji pasar langsung guna memahami perilaku konsumen nyata.
International Collaboration: Kolaborasi dua arah dengan menghadirkan desainer dari Korea Selatan.
Future Fashion Designer: Transformasi kompetisi yang berfokus pada eksekusi pola dan produksi nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas.
PINTU Incubator: Program kurasi untuk membawa desainer Indonesia ke Paris Trade Show.
Kenyamanan dan Kualitas Sangat Penting
Sekarang ini masyarakat cenderung ingin merasakan kenyamanan di hati saat membeli busana. Bahkan, hal ini dianggap lebih penting ketimbang kenyamanan di tubuh. Pembeli ingin merasa menjadi orang yang lebih baik ketika membeli produk.

Hilmy Faiq, Editor Harian Kompas berkata, "Setiap produk punya cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang harus relate dengan calon pembeli. Isu-isu besar yang relevan saat ini, lingkungan, kemanusiaan, kesetaraan, kolonialisme, menjadi narasi yang paling banyak dicari. Produk tidak bisa dilihat hanya dari kenyamanan dan harga. Perlu diidentifikasi dulu isu mana yang relevan. Apakah produk memberdayakan masyarakat, memanusiakan pekerja, mendukung lingkungan? Dari situ, baru narasi dibangun.”
Produk yang bagus dan narasi yang kuat harus berjalan beriringan, keduanya sama-sama menjadi "pencahayaan" bagi brand. Kualitas produk saja tidak cukup jika di balik proses produksinya ada praktik negatif: merusak lingkungan, eksploitasi pekerja, tidak ada jaminan kesehatan. Konsumen semakin peduli terhadap nilai dan dampak produk, brand dengan praktik tidak etis berpotensi perlahan ditinggalkan pasar.
Prioritas dalam Peliputan Media
Ada beberapa pertimbangan media dalam memutuskan hadir atau tidak, dalam meliput acara fashion show. “Pertama, selain dari desainer dan koleksi yang ditampilkan, media sosial juga jadi pertimbangan, seberapa siap dan seberapa kuat presence-nya. Kedua, kedekatan dan hubungan dengan desainer atau brand juga berpengaruh. Brand sebaiknya membangun hubungan dengan media bukan hanya saat ada maunya, ada banyak cara untuk menjaga hubungan itu, salah satunya lewat media sosial,” ujar Daniel Ngantung (Editor Detik Wolipop).

Karena jujur, undangan dalam satu hari itu banyak sekali, media pasti punya list prioritas. Ia menambahkan, “Untuk desainer terkenal akan menjadi prioritas, tapi bisa ada pertimbangan walaupun tidak terkenal karena ada kedekatan. Selain itu, media bisa tahu bahwa sebuah brand yang karyanya bagus meskipun belum popular bisa saja layak diangkat dan ditulis.”
Karya Desainer Tak Sekadar Urusan Busana
Dari sisi desainer, Hartono Gan pun memiliki pengalaman tak terlupakan. Baginya, kisah atau narasi tentang fashion yang kuat itu harus kembali ke identitas desainer. "Identity brand harus berdasarkan cara hidup desainernya. Fashion bukan soal baju. Fashion is the air that we breathe. Ini berhubungan dengan apa yang kita makan, dengar, baca, dan ke mana kita pergi. Itulah yang membentuk karakter dan narasi," ujar Hartono.
Ditambahkannya, viralnya suatu narasi saat ini tidaklah sama dengan tingkat penjualan. Viral belum tentu bisa mendongkrak penjualan. Karena itu, viral hanyalah bonus. Jauh lebih penting adalah menjangkau audiens yang tepat sasaran dengan strategi yang berbeda. "Desainer sebenarnya selalu punya material untuk diceritakan, tinggal bagaimana media mengulik dan men-drive arah pembicaraannya," tambah Hartono. Ketika ia merelakan lebih dekat dan berbincang lama dengan awak media, tulisan yang dipublikasikan di media cenderung jujur dan 100 persen sesuai dengan apa yang disampaikannya. (ES | Foto: Dok. JF3)




