Roemah Koffie Rilis Varian Cublak Suweng Padukan Kopi Gayo dan Temanggung dalam Satu Blend

Roemah Koffie yang merupakan bagian dari Royal Agro Industry resmi meluncurkan produk premium roastery beans terbaru mereka bernama Cublak Suweng pada Kamis, 16 Juli 2026. Peluncuran ini menjadi langkah nyata dalam memadukan keunikan biji kopi Gayo asal Aceh dan kopi Temanggung dari Jawa Tengah untuk melestarikan warisan nusantara.

 

 

Nama Cublak Suweng sendiri diambil dari lagu daerah Jawa yang telah menjadi domain publik. Kehadiran produk ini melanjutkan konsep penamaan dari seri produk sebelumnya yang juga berbasis lagu serta istilah daerah, seperti Rambadia dan Anak Daro.

 

CEO Roemah Koffie Felix TJ menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mengangkat lagu daerah yang mulai jarang dinyanyikan sebagai identitas dari produk roastery mereka. Langkah ini dirancang untuk mengikuti arah perjalanan tematik kebudayaan dari Sabang hingga Merauke, dengan target perilisan varian baru yang konsisten setiap enam bulan sekali.

 

"Dalam kopi Cublak Suweng, filosofi permainan tradisional tersebut kami resapi menjadi tiga lingkaran makna yang saling bertautan," ungkap Felix ketika menjelaskan konsep produknya.

 

Ia menguraikan bahwa lingkaran tersebut mencakup Inner Circle yang berfokus pada relasi personal individu dengan diri sendiri, Shared Circle untuk hubungan sosial dengan sesama manusia, serta Eternal Circle yang menggambarkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam sekitar.

 

"Karakteristik biji kopi Gayo yang khas bertemu sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari biji kopi Temanggung, membuat kopi ini memiliki cita rasa yang seimbang dan harmonis, seperti tiga lingkaran makna tadi. Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia," tutur Felix saat berbicara di outlet Roemah Koffie PIK 2.

 

 

Dari sisi teknis pengolahan, biji kopi ini diproses melalui kombinasi metode giling basah atau wet hulled dan metode alami atau natural. Langkah ini berhasil mempertahankan kelembapan terbaik biji kopi sebelum dikupas sehingga menghasilkan tingkat keasaman yang rendah, sensasi rasa tanah yang eksotis, serta rasa manis alami yang dominan di lidah.

 

Commercial Director Roemah Koffie, Ryo Limijaya, menyebutkan bahwa varian baru ini dikembangkan secara khusus untuk menjawab tren konsumsi kopi premium yang kian berkembang pesat di tanah air.

"Cublak Suweng dirancang agar tetap mempertahankan karakter kopi Indonesia yang kuat, namun memiliki spektrum rasa yang fleksibel," jelas Ryo.

 

Ia menambahkan bahwa titik tengah inilah yang membuat varian baru tersebut sangat luwes saat diseduh. Produk ini bisa dinikmati sebagai black coffee secara murni maupun dieksplorasi sebagai base espresso untuk racikan latte dan berbagai kreasi kopi campuran lainnya. Rilisan ini hadir untuk memenuhi kebutuhan para pecinta kopi maupun para pebisnis kedai kopi yang mencari satu base kopi untuk beragam eksplorasi menu.

 

 

Daya tarik visual dari Cublak Suweng juga tampak pada kaleng kemasan klasiknya yang menampilkan ilustrasi kisah legenda kancil dan kura-kura. Pilihan visual tersebut membawa pesan moral dari falsafah Jawa kuno alon-alon asal kelakon yang mengutamakan nilai ketekunan serta kesabaran dalam berproses. Melalui kemasan yang estetik ini, Roemah Koffie optimistis produk mereka dapat diminati para wisatawan asing sebagai oleh-oleh premium sekaligus siap menyuplai pasar ekspor komersial.

 

Guna memenuhi kebutuhan pasar yang bervariasi, produk ini hadir dalam beberapa pilihan format belanja yang fleksibel. Penikmat kopi dapat memilih varian biji utuh atau whole beans dengan tingkat gilingan yang dapat disesuaikan seperti kasar, medium, atau halus dalam ukuran kemasan 200 gram dan 500 gram. Selain itu, tersedia juga varian kopi bubuk siap seduh dalam kemasan kapsul isi 10 pak dengan ukuran masing-masing 5,5 gram.

 

Produk premium ini kini sudah bisa didapatkan oleh masyarakat di seluruh outlet resmi Roemah Koffie di area Jakarta dan Tangerang. Konsumen juga bisa membelinya melalui jaringan ritel modern terkemuka seperti Grand Lucky, Kem Chicks, dan Papaya. Sejalan dengan peluncuran ini, Roemah Koffie juga tengah mematangkan program pemberdayaan hulu untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas petani kopi di Temanggung selaku mitra hulu mereka.

 

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, turut menyampaikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif tersebut. Ia menilai narasi budaya menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi produk lokal.

 

"Indonesia adalah salah satu coffee producer terbesar di dunia. Apa yang dilakukan Roemah Koffie melalui 'Cublak Suweng' ini adalah wujud nyata dari hilirisasi yang luar biasa. Storytelling budaya dan tradisi Indonesia di balik produk ini merupakan unique selling point yang hanya kita miliki. Jika dikemas dengan tepat, narasi seperti ini bisa membawa produk kreatif kita menjadi pemenang di panggung global," ujar Irene.

 

Irene juga menambahkan filosofi mendalam dari rilisan terbaru ini yang mengingatkan pentingnya esensi belajar bagi semua kalangan. Menurutnya, melalui permainan tradisional Cublak Suweng, semua orang diingatkan untuk tetap bermain dan belajar tanpa memandang usia. Di tengah berbagai tantangan yang ada, semangat untuk terus melangkah demi nama Indonesia dan membawa diplomasi kopi ke ranah internasional harus didukung bersama. (Dok. Roemah Koffie)