Ira Andamara Eddymurthy | Cerdik Melihat Peluang Dalam Berbagai Kesempatan

Founding Partner SSEK Indonesian Legal Consultant

Memulai karier sebagai seorang pengacara sejak lulus dari fakultas hukum Universitas Indonesia, Ira Andamara Eddymurthy memantapkan diri menjadi salah satu mitra pendiri Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono (SSEK).

Sejak didirikan pada 19 Agustus 1992, firma hukum itu pun kini telah menginjak tahun ke-28. Kepada Women’s Obsession, perempuan yang akrab disapa Ira bertutur tentang suka duka dan ombak dalam perjalanan kantor hukumnya.

“Pada saat itu kantor lawfirm banyak didominasi oleh kaum pria. Sementara SSEK didirikan oleh empat orang perempuan. Tentunya memulai sesuatu tidaklah mudah, kami juga melewati momen up and down. Namun, kami selalu menikmati perkembangan kantor hukum ini setiap tahun.

”Hampir tiga dekade, SSEK telah melalui perjalanan panjang dan menjadi saksi beragam peristiwa, salah satunya tantangan pada saat krisis ekonomi tahun 1998 yang menyebabkan adanya perubahan ekonomi dan politik pada saat itu. “Dapat dikatakan kami saksi sejarah karena kebetulan kantor berdekatan dengan lokasi peristiwa bersejarah tersebut. Namun meskipun saat itu kondisi sedang sulit, kami beruntung dipercaya memegang restrukturisasi salah satu perusahaan asuransi terbesar untuk melakukan merger dan akuisisi. Hal itu mungkin dapat dikatakan kami memperoleh kesempatan meskipun di tengah krisis ekonomi,” jelas Ira.

Kantor SSEK khusus bergerak di bidang corporate dan commercial, baru sepuluh tahun belakangan memperluas dan aktif di bidang litigasi serta arbitrasi. Ira sendiri fokus pada corporate dan commercial, serta merger dan akuisisi untuk perusahaan dari semua bisnis industri, baik itu oil and gas, pharmacy, insurance, financial sector termasuk banking dan capital market.Untuk dapat menjalankan tugasnya selama ini, Ira menyebutkan kualitas yang harus dimiliki pengacara adalah memiliki integritas tinggi.

“Tentu sudah banyak yang mengetahui tentang dikotomi pengacara putih dan pengacara hitam. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita menekankan untuk selalu taat azas dan tunduk pada kode etik profesi advokat. Memang cobaan yang dihadapi banyak sekali, namun dengan integritas tinggi kita bisa teguh berprofesi sebagai pengacara putih,” ungkap sarjana tamu fakultas hukum Universitas California, Berkeley tersebut.

 

Agar dapat terus bereksistensi, dia mengakui sebagai generasi baby boomers atau senior diperlukan kombinasi dan kolaborasi dengan generasi milenial maupun gen-Z. Hal itu bertujuan supaya bisa menemukan sesuatu yang out of the box. Para senior pun harus mau berkembang, membuka diri, dan bekerja sama dengan generasi muda. “Karena keberadaan mereka membuat kantor ini menjadi dinamis dan lebih terbuka akan pembaruan.

Termasuk soal teknologi, kami juga belajar agar tidak gaptek. Jadi dengan bersama-sama kita bisa menuju kemajuan,” ujar perempuan yang saat ini menjabat plt Ketua Komisi Hukum dan Praktik Komersial Kamar Dagang Internasional Indonesia ini. Ira juga anggota International Bar Association dan Inter-Pacific Bar Association (IPBA) dan mewakili yurisdiksi Indonesia di IPBA tahun 2002 sampai 2008, dan menjabat sebagai Ketua Divisi Luar Negeri Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

Menghadapi tahun 2020 yang cukup menantang ini menurut Ira timnya harus bekerja lebih keras mengambil kesempatan yang ada. Pandemi memang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia lain.

Namun, dia selalu berpikiran dalam kesulitan selalu ada kesempatan yang dapat digunakan sebaik-baiknya. Kantor hukumnya yang memberlakukan work from home tetap harus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi klien. Keep doing the work, SSEK harus mempertahankan konsistensi walaupun harus work from home, namun juga mengedepankan efisiensi dan mengutamakan kesehatan seluruh keluarga besar SSEK,” jelasnya.

 

Naskah: Angie Diyya, Foto: Fikar Azmy

 

 

Untuk artikel selengkapnya dapat dibaca di Women's Obsession cetak dan digital edisi 65/Agustus 2020