Festival Berbalut Semangat dan Ketangguhan

Memiliki banyak suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia tidak pernah kehabisan festival budaya yang sangat menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Festival Budaya Isen Mulang (FBIM). Dalam bahasa Dayak Ngaju, Isen Mulang memiliki arti pantang mundur atau pantang menyerah dan menjadi semboyan khas suku Dayak Kalimantan Tengah. Selain itu, Isen Mulang juga mengandung makna ketangguhan dan keuletan masyarakat suku Dayak dalam menghadapi tantangan dinamika kehidupan. Dua kata tersebut juga mengandung makna semangat daya juang untuk bertahan hidup.

 

Berlangsung pada bulan Mei, Festival Budaya Isen Mulang sendiri biasa dihelat untuk merayakan hari jadi kota Palangka Raya. Pertama kali digelar pada tahun 2017, acara ini selanjutnya rutin dilakukan sebagai agenda tahunan. Selain menjadi ajang perayaan, pihak penyelenggara pun terus melaksanakannya setiap tahun sebagai ajang promosi pariwisata yang mampu memperkenalkan lebih luas lagi budaya-budaya yang ada di Kalimantan Tengah.

 

 

Baca Juga:

Pameran Kecantikan BerKonsep Unik di Pondok Indah Mall 2

Rayakan 22 Tahun Dapur Cokelat Perkenalkan CEO Baru

 

 

Festival yang ditetapkan menjadi salah satu Karisma Event Nusantara 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini umumnya dimeriahkan dengan bermacam perlombaan budaya dan melibatkan lebih dari 1500 peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Dimulai dengan karnaval budaya, masyarakat akan berbondong-bondong datang ke lokasi acara menggunakan busana meriah dengan tema yang berbeda-beda. Setelah berkumpul, masyarakat yang menjadi peserta karnaval melakukan parade dengan berkeliling di jalan-jalan utama. Pada acara ini, tarian-tarian tradisional juga akan mengiringi perjalanan selama parade berlangsung.

 

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan berbagai lomba menarik. Salah satunya adalah lomba Manyipet atau menyumpit, merupakan salah satu tradisi suku Dayak Kalimantan Tengah yang sudah ada sejak zaman dahulu. Tradisi tersebut umumnya dilakukan pada saat berburu atau berperang dan dilakukan dengan cara meniupkan Damek (anak panah) menggunakan Sipet (sumpit) ke target mereka. Tidak sembarangan, peserta yang mengikuti lomba ini biasanya juga menggunakan busana adat khas Kalimantan Tengah.

 

Ada pula lomba Karungut yang juga merupakan salah satu tradisi lama masyarakat Dayak. Karungut merupakan kesenian tradisional suku Dayak Kalimantan Tengah berupa sastra lisan yang dilagukan, biasanya berisi pesan moral dan motivasi. Peserta akan berlomba membawakan syair-syair Karungut seindah mungkin.

 

Perlombaan lain yang tidak kalah menarik untuk disaksikan adalah Lomba Maneweng, Manetek Tuntang Manyila Kayu, Lomba Habayang, Lomba Sepak Sawut, Lomba Mangenta, Lomba Balogo, Lomba Jukung Tradisional, Lomba Malamang, Lomba Lawang Sekepeng, Lomba Besei Kambe, hingga Lomba Mangaruhi. Setelah menyaksikan parade dan berbagai lomba, salah satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan adalah mengunjungi deretan penjual kuliner khas Kalimantan Tengah. Pertama, peneganan yang tidak absen adalah lemang khas Suku Dayak. Ada pula juhu umbu sawit yang dibuat dari bongkol pohon kelapa atau umbut rotan dan cita rasa yang gurih asam.