Ayo Periksa Mata

Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, terutama kehadiran smartphone dapat berakibat buruk terhadap kesehatan mata, mengapa? Kelelahan pada mata terjadi, karena efek dari cahaya yang ditimbulkan. Apalagi adanya fitur-fitur menarik yang terkadang membuat kita betah berlama-lama menatap layar smartphone.

Menjaga kesehatan mata memang bukan hal mudah, apalagi jika kita tidak pernah menyadari risiko yang ditimbulkan dari cahaya. Untuk itu dr. Gitalisa Andayani, Sp.M(K), Humas Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami), menyarankan untuk mengatur pencahayaan di dalam rumah.

Menurutnya pencahayaan yang baik adalah kondisi cahaya merata, kemudian iluminasinya optimal jadi tidak selalu berarti maksimal. Jika terlalu terang akan silau, atau sebaliknya
bila terlalu redup itu akan susah untuk melihat objek. Situasi tersebut harus optimal, agar sinar tidak berkembang dalam artian tidak ada efek flicker-nya.

Mata adalah organ yang sangat berharga. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mata dan memaksimalkan fungsi penglihatan kita, salah satunya ketika berkegiatan di luar ruangan seperti naik sepeda, berenang, dan aktivitas lainnya.

Pemeriksaan rutin kesehatan mata juga tak boleh dianggap remeh. Entah itu untuk usia lanjut, muda, pria maupun wanita harus rutin ke dokter spesialis mata, setidaknya dua tahun sekali. Orang dewasa yang sudah berumur lebih dari 40 tahun bahkan disarankan untuk memeriksakan mata setahun sekali.

Hal ini berguna untuk mencegah penyakit mata diikuti penambahan usia, seperti glaukoma dan katarak. Atau bahkan kanker mata yang terjadi akibat sel-sel di jaringan mata tumbuh tanpa terkendali dan pertumbuhannya dapat menyebar ke area lain.

Cari tahu juga tentang riwayat kesehatan mata keluarga. Karena banyak penyakit atau masalah mata yang diturunkan dari orangtua ke anak. Selain itu, ada penyakit yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan mata, contohnya diabetes dan tekanan darah tinggi.

Dengan pemeriksaan rutin, berbagai bibit penyakit mata dan gejalanya dapat terdeteksi lebih dini, pengobatannya pun tentu akan lebih mudah. “Untuk kebiasaan memeriksa mata memang masih rendah, kami belum pernah melakukan survei secara nasional, tapi beberapa penelitian sporadis yang kami lakukan rata-rata 15%, bahkan untuk kelompok yang berisiko tinggi, seperti penderita diabetes,” ujar dr Gitalisa. Iqbal Ramdhani | Istimewa

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2018